Cinta dalam secangkir kopi: KOPI HITAM

‘ Biar ku buat hal ini menjadi lebih simpel

Untuk ku sampaikan,

Pagi ini,

Secangkir kopi hitam diseduh,

Satu sendok kecil gula merah,

Terduduk di tempat yang sama,

Dalam periode waktu yang berputar ke belakang.

Aku melihatmu pagi ini,

Entah hanya ilusi atau adanya itu kau.’

 

“Iz, eh bengong aja.. nanti maneh kesambet loh” ujar zaky yang membuyarkan lamunanku. Zaky, sahabat terbaikku semenjak SMA, rekan bisnisku juga. Bersama Zaky dan dua orang lagi temanku kami memulai bisnis ini 7 tahun yang lalu, saat kami masih sama-sama bertitel mahasiswa tingkat dua. “Masih aja maneh minum kopi item, nggak bosen apa Iz?” Tanya Zaky. “nggak pernah bosen dan nggak akan bosen” jawabku dengan pasti. “oh ya, tadi urang liat ai jak” , “Ai siapa?” zaky tampak bingung dan menyinyitkan sebelah dahinya.

“Faiz, Zaky udah lama yah nunggu? Sorry tadi gue ke jebak macet dijalan” dengan senyum lebarnya, Dimas datang dan memutus pembicaraan kami.

“Selow aja, ini urang juga baru dateng kok. Mulai sekarang aja yuk. Si Hadin ga bisa dateng soalnya lagi ke Tanah laut ngurusin tambang batu baranya yang kemarin di demo” Zaky menjawabnya dengan sigap menyudahi pembicaraan basa-basi ini dan meeting pun di mulai.

Empat jam terlewati sudah dan kami belum final memutuskan dimana lokasi yang tepat untuk cabang ke 100. Kepala yang cukup penat mendengar perdebatan antara Zaky dan Dimas sedari tadi semakin menyesak dengan sekelebat bayangan tentang Ai, aku amat yakin bahwa aku tiada salah melihat, ia memang Ai, dia pasti Ai.

Ai, seorang wanita yang tiada akan pernah ku lupakan, masih teringat kala pertama berjumpa dengannya 10 tahun yang lalu. Dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu ku, aku melarikan diri dari rutinitas intensif mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri Sabtu pagi itu.

Ai,seorang gadis yang duduk dibangku pojok menghadap jendela sambil menggoreskan pensilnya dalam sketch book dan dengan ditemani secangkir kopi hitam. Sambil menyeruput Frappuccino, aku menikmati memandangi dirinya yang semakin membuatku penasaran dan membuatku menjadikan kunjungan ke kedai kopi ajo ini setiap sabtu pagi sebagai rutinitas.

Preferensi kopi kesukaanku pun berubah semenjak bertemu dengannya, kopi hitam dengan satu sendok kecil gula merah. Semenjak pertemuan pertamaku dengannya membuatku selalu menanti kehadiran Sabtu pagi. Meski tak mengenal namanya, aku merasa dekat dengannya.

Minggu demi minggu, Bulan demi bulan berlalu dan aku pun belum mengetahui namanya hingga akhirnya Ai, goresan alphabet yang tertera di cover sketchbooknya. Ku yakini Ai ialah namanya karena selalu tertera di setiap sketchbooknya. Senyum simpul menghiasi hariku kala mengetahui namanya Ai.

Terkulum senyum termanis,

Yang malu tapi dengan pasti terbit,

Seakan duniaku penuh,

Meski kosong adanya,

Hanya dengan sebuah nama yang kugenggam ini,

Bagai magis yang mengubah kopi menjadi air tebu.

 

“Iz, Faiz, maneh ke sambet yah?” Tanya zaky membuyarkan lamunanku. “eh kenapa, kenapa? Sorry, Sorry ga dengerin tadi” jawabku sambil nyengir kuda. “eleuh, eleuh urang udah berbusa cuap cuap maneh malah ngelamun. Nanaonan ente iz? Tumben tumbenan ngalamun? Itu angkat gih sana telponnya” sembur Zaki. “bentar yah zak, urang angkat telpon dulu” kemudian ku angkat telfon yang ternyata dari Gde, anak buah ku yang menginfokan bahwa ada masalah di tanjung priok. Selain usaha bareng sama empat orang temanku itu, aku pun memiliki bisnis lain di bidang kontraktor&trading, sejauh ini proyek yang kukerjakan ialah proyek-proyek BUMN dan pemda. ” cuy, urang cabut duluan yah, Trafo sama CVT Banyuwangi kena jalur merah.” Tanpa menghiraukan jawaban dari kedua temanku itu aku berlari ke tempat parkir dan langsung memacu Harrier hitam ku ke Jakarta.

 

    Beta melihat bintang,

    Sungguhpun bintang disungkup gelap.

    Banyak bukan terbilang,

Tetapi satu yang beta lihat

 

    Malam yang begitu indah dan juga melelahkan. Sambil menggenggam secangkir kopi hitam, ku alihkan pandanganku ke teleskop bintang pemberian ayah, beribu bintang tertangkap namun canopus yang begitu terang selayaknya batu safir tertangkap mataku, biru terang seperti bola matanya.

 

    Mata birunya, terlukis sempurna diwajah ovalnya, masih teringat saat pertama kali aku menatap matanya. Pertemuan ke 25, Senin pagi, kala itu aku sedang terburu waktu. ” Pak sabuga, ngebut yah pak, saya terburu-buru” perintahku pada pak supir. pagi itu, aku bak kesetanan memburu waktu karena pagi itu aku harus tes masuk perguruan tinggi negeri dan malangnya aku tertidur pulas dan baru terbangun 20 menit sebelum tes dimulai yang artinya jika tidak tepat waktu maka kesempatanku hilang sebelum berperang.

    Taksi yang kutumpangi berjalan begitu cepat secepat buraq hingga duarr, taksiku menyerempet seorang gadis yang berlari menyebrangi jalan. Kontan aku langsung turun karena merasa bertanggung jawab atas perintahku kepada pak supir untuk mengebut di jalan. Ku hampiri sang korban, dan dengan penuh penyesalan dan bertambah berkali-kali lipat kala ku tahu Ai lah yang tertabrak, pelipisnya terluka, dan beberapa lecet di tangannya. Tubuhku gemetar dan dengan sigap tanpa diperintah melakukan pertolongan pertama padanya. Untungnya, aku masih membawa Hansaplast dan betadine di ranselku sisa pendakian ke semeru dua minggu lalu .

 

    “Sudah tidak apa-apa, saya baik-baik saja, terima kasih” ucap Ai padaku.”betul saya tidak apa-apa” lanjutnya meyakinkanku sembari tersenyum. “ini, no telfonku, hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu, aku akan bertanggung jawab atas semuanya.” sambungku padanya. Perasaanku kala itu amat tak menentu karena dihadapkan pada dua pilihan yang sangat penting bagiku, dirinya dan impianku menjadi seorang engineer. Mata biru nya begitu mempesona masih lekat tergambarkan.

 

    Sabtu pagi setelah peristiwa naas itu ku kunjungi kedai kopi ajo seperti biasanya dengan harapan dapat bertemu dengan Ai, mengucapkan maaf dan bertanggung-jawab atas peristiwa naas tersebut.

    Namun, sialnya hingga kedai kopi ajo ini tutup, Ai sama sekali tidak menampakkan dirinya. Hatiku hancur dan ada sedikit penyesalan. Namun, tidak berhenti disitu saja, aku masih tetap berkunjung ke kedai kopi ajo dengan penuh harap ia akan datang pada sabtu pagi berikutnya. Sabtu demi sabtu tanpa lelah ku tunggu ia namun tiada pula ia datang hingga bertahun-tahun terlewati.

Menu kafetaria sabtu pagi:

    Sepi.

Aku duduk dan minta segelas air es

Dalam hatiku namamu, dan kau tak ada

Orang-orang berbincang dan ketawa

Sebuah dunia oleng dalam kafe ini

Matahari jauh, suara-suara kendara riuh

Sebuah dunia oleng dalam sepi

Aku pun berdiri, menghadap pergi

Aku tiada, seperti terpandang jua

Ketika di luar memancar

    Matahari pagi

****************

    “Gimana iz, CVT sama trafo nya udah bisa keluar dari pelabuhan?” Tanya Dimas. “Alhamdulillah udah, Cuma demuretnya itu loh bikin kantong jebol, tapi udh ekspedisi sih sekarang ke banyuwangi” jawabku. “Zaki mana Dim?” Tanyaku balik. “itu dia, zaki” ujar Dimas sambil menunjuk. Kuikuti arah telunjuk Dimas dan yang ku dapati justru sesosok Ai. Lalu tanpa di komando aku pun langsung bangkit dan mengikuti Ai yang mau memesan kopi.

Ku sela pembicaraan Ai dengan pelayan, “Dua kopi hitam dengan satu sendok kecil gula merah di masing-masing cangkirnya mba” seruku pada pelayan. Ai, memandangiku tampak kesal karena di sela. Ku sodorkan secangkir kopi hitam yang kupesan. “Faiz, Faiz Wicaksono”, ucapku “Ayu, Dhiajeng Rahayu” jawabnya dengan lembut dan dengan senyuman khasnya.

Jingga terang tirai mentariku hilang di ufuk barat
Beranjaklah suci chandra biru pijarkan ratriku
Belai lembut pelukan sang bayu bawa ragaku terbang melayang
Melintasi indah dunia

Duhai Ayu, bolehkan ku menggodamu
Sebab tak lagi ragu bayangmu penuhi khayalku

Cantik parasmu beri senyuman terindah
Binar matamu sejukkan relung kalbuku
Jantungku berpacu detak nada yang terindah
Andai kau tahu indahnya duniaku

 

  1. Secangkir Kopi Hitam, by: Wulan W.E.2012
  2. Kopi menjadi air tebu, Wulan W.E,2013
  3. Bintang ditengah gelap , Ajip rosidi
  4. Kafetaria sabtu pagi, Taufik Ismail.1966
  5. Ayu, Sweta Kartika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s