Senja biru juni

Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
 
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
 
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu                         
 
 Sapardi Djoko Damono
(Hujan Bulan Juni: 1989)
 
Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono
(Hujan Bulan Juni: 1989)
 
Sajak kecil tentang Cinta
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

Sapardi Djoko Damono
 
Senja biru juni
juni yang dingin membisu,
menghembuskan angin yang menyejukkan,
kemudian senja menyapa,
demi senja yang berganti berirama,
senandung soneta terkungkung dalam kotak,
mencuat-cuat minta dilukis,
hingga kemudian,
badai biru datang,
yang awalnya dia datang,
dan membirukan senja,
membisukan juni,
menyisakan senja biru pada Juni ini,
Senja biru Juni..
biru,
bisu,
dingin,
menusuk menyakitkan,
itulah senja biru juni..
 
Wulan Wahyu Eganingrum
(Juni 11,2013 10.54 WIB Bandung)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s