1 sel 3 kehidupan(part 3)

“Yaser, apa kabarmu?”

“Ojan… hikshiks… baik Jan, ya ampun hiks hiks lo hikshiks kurus banget Jan” ucap Yaser sambil tersedu sedu..

“Yaser, jangan begitu, jangan nangis aku baik baik aja kok. Kabar adek-adek kita gimana Ser? Ita,Fadhil, Murni gimana kabarnya?” tanyaku balik

“Mereka hikshiks baik baik.. Oh ya Jan, ada kabar baik hikshiks buat lo”

“Apa ser?’’

“Lo boleh keluar hikshiks dari sini 1 bulan lagi Jan..”di tengah sedu tangisnya tersisipi simpul senyum khas Yaser

“Alhamdulillah, ya Allah engkau mengabulkan doaku” ucapku penuh syukur disertai sujud syukur. Kabar itu adalah hadiah terindah untuk ulang tahunku hari ini, terima kasih ya Rabb… aku kembali ke sel dengan penuh riang,hatiku bahagia tak terhingga..

=============================================================

Pagi ini sungguh membahagiakan bagiku, berita yang dibawa Yaser kemarin membuatku bersemangat,, senyuman mengalir terus tak henti.. kemudian ada satu yang mungkin tidak bisa dipungkiri aku merasa kedua teman satu sel ku kemudian lebih baik kepadaku, baik Pak Tua maupun Mas mas Artis itu sekarang congkaknya mulai berkurang. Dan melukis, aku amat senang sekali melukis, tanganku tak bisa berhenti mengguratkan kuas.. ada kebahagian tersendiri dalam diriku saat melukis hingga tak memedulikan sekitar,, mungkin pak tua itu sudah lama berdiri dibelakang ku menatapi kuasku berdansa diatas kanvas..

“ Zan,” tegurannya membangunkanku dari duniaku,, kutengok dan ia tersenyum.. itu bukan hal yang wajar bagiku melihatnya tersenyum untukku tapi kupikir hal hal positif sajalah,, aku membalas senyumannya, dan ia mulai bertanya “ kau senang melukis?’’ tanyanya lagi masih dalam rona mengundang persahabatan yang janggal.. “iya pak, saya dulu melukis saat ayah dan ibu saya masih ada dan belum melangkahkan kaki kejalan”ujarku dalam nada datar.

Pak tua itu menggenggam satu lukisanku dan bertanya “menurutmu apa yang terjadi jika lukisanmu ini hidup?.” Aku tersentak dengan pertanyaannya, dan kutatap lukisan wanita yang  diperciki darah ditangan pak tua itu, dan “ sakit tak sekedar tertusuk sebilah pedang, dendam kesumat bisa dibawa mati,, namun sang anak punya hati para pembesar, dan ia kan hidup menjadi orang besar yang membantu banyak, hatinya terefleksikan dari bola matanya yang bening dan tenang..”

Pak tua itu tersenyum disertai titik air mata seraya memelukku erat,, “nak, jika hidup adalah berat adanya, tidak perlu dendam dibawa, karena itu akan menjadikanmu monster yang kau benci itu..  biarkan tuhan yang seharusnya membalasnya,, aku salah selama ini.. terima kasih atas dirimu yang bukakan pikir yang terbelenggu dendam monster ini.” Lalu ia meninggalkan ruangan ini, meninggalkanku sendiri yang tersihir oleh kata-katanya..

=============================================

…namun sang anak punya hati para pembesar, dan ia kan hidup menjadi orang besar yang membantu banyak, hatinya terefleksikan dari bola matanya yang bening dan tenang..’ kata katanya membawa semangat bagiku bahwa aku masih bisa memperbaiki keadaan, memperbaiki hal-hal yang aku lakukan..

Aku masih bisa menjadi orang baik singkat kata yang tersirat..

Kuraih ponselku, dan kutelpon pengacaraku

“ Bung andi, saya putuskan untuk buka hitam saya, tak ada gunanya lagi jika saya menyiasati penegak hukum, sudah capek saya bermain main begini.. disidang nanti biarkan saya bicara..”

===================================================

“Fauzan, tuhan dimana ketika kita didalam sel ini?” Tanya Fauzi.

“kita dimana ketika tuhan membiarkan kita diluar sana?” tanyaku balik

“Mengapa tuhan tidak menegur dengan cara lain?” Fauzi bertanya lagi

“apa  kita mendengarNya selama ini?” balasku

“Bagaimana kita bisa?”

“itu alibi yang selalu kita pakai,, kita tahu jawabannya” aku menyudahi pembicaraan ini, pembicaraan yang aku sendiri menjadi berfikir apa hikmah dibalik ini semua, mengapa aku harus dipenjara?

==========================================================

‘Kita dimana ketika tuhan membiarkan kita diluar sana? Apa kita mendengarNya selama ini?’

Terngiang ngiang kata kata Fauzan,, kembali flashback ke masa lalu..

Semuanya terasa real, dan kemudian ketemu pada titik terang..

“Saya mungkin memang salah, berdosa, tapi bisakah saya memperbaikinya?”

“Masihkah tuhan memaafkan saya?” terpaku aku pada kedua pertanyaanku..

Allahuakbar Allahuakbar…

“Nak Fauzi, mari kita sholat” ajak Pak Faizen membuyarkan pikiranku

“mari Pak,Fauzan dimana yah?”

“Sepertinya yang adzan itu Fauzan”

Sepanjang perjalananan aku hanya bisa terdiam sambil menyimak adzan yang dikumandangkan oleh Fauzan  dan seketika sekujur tubuhku bergetar ketika Fauzan mengumadangkan kalimat adzan ‘Lailaha ilallah’

=======================================================

Seusai sholat Dzuhur, kuraih Al Qur’an Terjemahan di rak sampingku..

Ini kali pertama aku membaca Al Qur’an lagi setelah aku bergelut didunia entertainment.. Kubuka Al Qur’an itu secara Random, dan aku terdiam ketika membaca salah satu terjemahan ayat pada Surat Ar Rahman yang isinya ‘Maka nikmat TuhanMu yang mana lagi yang akan kau dustakan’ titik air mata mengalir dari mataku ini, membisu dengan tekad yang kuat membuka lembar baru, mendekatkan diriku pada tuhanku..

===============================================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s