1 Sel 3 Kehidupan (part 2)

“halo pak Faizen, begini pak saya kayaknya harus memindahkan bapak ke sel yang jumlahnya sekitar 3 sampai 5 orang sementara pak, untuk keamanan kita sementara karena media dan satgas mafia hukum sedang menyoroti LP jadi kayaknya lebih baik kita berhati hati..”

“untuk berapa lama?”

“wah berapa lamanya saya belum bisa bilang pak..”

“ya sudah, tapi pastikan selnya besar dan sanitasinya bagus serta jangan orang sembarangan satu sel dengan saya dan juga jangan lama lama”

………………………………………………………………………………

“Fauzan, Fauzi kalian kedatangan satu teman baru, perlakukan dengan baik pak Faizen ini, kalau saya dengar ada apa apa dengan beliau, maka saya tidak akan segan segan menghabisi kalian” ucap sipir itu sewenang wenang, entah bagaimana semenjak 3 hari saya masuk penjara, penghuni di sel ini bertambah padahal tadinya hanya saya sendiri di sel ini dan tampaknya mereka bukan orang orang berandalan tampang penjahat.. padahal sipir gemuk itu selalu bilang saya akan di satukan dengan para pencuri dan pembunuh berdarah dingin.. tapi saya sama sekali tidak merasa mereka adalah pembunuh,, apalagi pria tua yang baru bergabung ini,dari tampangnya yang necis sama sekali tidak memungkinkan,, ia lebih mirip dengan konglomerat, tapi kok bisa yah bapak tua ini dipenjara kalau ia adalah konglomerat betulan..

“ eh, kamu bukannya Fauzi vokalis The Panther yah?”Tanya bapak tua itu kepada orang yang disampingku itu,

“ ya pak, bapak bukannya Pak Faizen konglemerat itu yah, wah pak di tempat asal saya bapak terkenal sekali,, bapak dijuluki bapak pembangunan super, berkat bapak pertumbuhan ekonomi di tempat kami semakin menanjak,senang bisa bertemu dengan anda pak.. “

“haha.. kamu ini bisa saja.. saya hanya orang biasa kok.. oh ya,kok kamu ada disini sih? Berkaitan dengan video itu?apa itu betul?”

“yah, begitulah pak..saya dijebak pak”

“wah nasib kita sama yah. Saya juga, gara gara bawahan saya yang nggak becus saya jadi masuk sini deh”

Wah wah, jadi si bapak tua itu memang konglomerat dan mas mas yang duduk di sampingku itu artis yah,, hmm.. ini kesempatan bagus, mereka berdua pastilah pekerja keras yang murah hati dan kalau saya ceritakan tentang kehidupanku pasti mereka akan merekomendasikan aku untuk masuk ke dapur rekaman pada teman mereka ketika aku keluar dari sel dan hidupku akan lebih baik, ah sudah seharusnya aku menyapa mereka berdua, aku harus bersikap baik..

“ Saya Fauzan, saya pengamen yang bertalenta masuk kemari karena saya di jebak di pasar, padahal saya menolong ibu yang ke jambret eh,, malah saya yang ditunduh sebagai penjambret, oh ya kita sama sama punya nama yang berawalan huruf yang sama,, wah ini memang takdir yang luar biasa, terima kasih tuhan telah mempertemukan ku dengan orang orang hebat ini.. senang berkenalan dengan anda semua” kataku dengan sambil menjulurkan tanganku untuk bersalaman juga disertai senyum ramahku..

“maaf siapa kamu tadi?” Tanya si tua itu

“saya Fauzan, pengamen bertalenta yang juga masuk kesini karena dijebak” kataku mengulangi lagi, mungkin bapak tua itu pendengarannya terganggu,,

“oh,,” dan si tua itu tidak menjabat tanganku, ia malah balik badan,, begitu juga dengan mas mas disampingku, ia malah sengaja mengalihkan perhatian si tua,, dan mereka sangat tampak akrab sekali dan sangat sombong,,

            Sombong mu memakan hartamu

            Sombongmu bunuh derajatmu

            Tak lah kau lebih dari kutu dikubangan..

            Acuhkan saja,, seperti kau lebih baik saja,, cih,,[1]

“ah,, akhirnya selesai juga bersih bersihnya.. ke ruang kesenian ah,,” di LP ini memang difasilitasi dengan ruang kesenian,ruang jahit, dan juga ada kursus montir untuk para narapidana agar nantinya setelah keluar dari LP bisa menjadi orang yang berguna dan tidak mengacau lagi.. biasanya aku selalu berlama lama diruang kesenian untuk melukis atau menulis lirik lagu,, ruang kesenian sudah menjadi favorite ku, dari sana aku bisa melihat taman dan air mancur buatan satu satunya di LP ini, yah memang tidak sebagus taman taman di luar LP, tapi taman itu selalu bisa membuatku tenang dan lupa akan kepahitan di LP..

Aku memutuskan untuk melukis hari ini, kuguratkan kuas biru melingkar horizontal sembarang disertai dengan warna janda yang kubuat meringkel, dan terus ku ayunkan kuasku hingga membuat potret seorang wanita paruh baya dengan raut diperciki darah sesambil menggendong putranya dengan tangan terborgol berantai yang di pegangi kasar oleh seorang pria berjas perut buncit dengan uang keluar keluar dari sakunya, dan orang itu menginjak kepala orang mati…

“itu, itu kau yang melukisnya?”Tanya pak tua yang satu sel denganku mengagetkanku..

“ah, iya pak hanya iseng saja.. bagaimana menurut bapak?”

“ini juga lukisanmu?” Tanya bapak itu menunjuk pada lukisan sawah menguning yang sebagian dilalap api dengan petani,istri dan tiga anaknya di pinggir gubuknya meratapi api yang melahap sebagian sawahnya yang akan panen yang kulukis tempo hari..

“ah itu juga pak.. hanya iseng saja,, masih ada 3 sampai 4 lukisan buatan saya disini.. bapak mau lihat?”

Namun tawaranku itu tak juga dijawabnya, namun air mukanya berubah jadi pasi dan tampak berkaca kaca matanya dan kemudian ia keluar dari ruang kesenian dengan terburu buru.. “dasar aneh” gumamku.

============================================================

Tubuhku gemetar melihat lukisan pemuda yang satu sel denganku.. ia melukiskan kejadian hidupku di masa lampau,, ibu,, ibu.. ibu.. ia melukiskan kejadian pahit yang ingin ku tutup, kejadian dimana membuat ayahku harus kehilangan nyawanya dan kami harus kehilangan sawah dan gubuk reyot satu satunya.. lelaki tua yang dilukiskan pemuda itu seperti pak Marno,tuan tanah dikampungku. Ia selalu mendapatkan tanah atau sawah yang ia inginkan dengan harga miring dan kalau ada yang tidak mau melepaskan tanah atau sawahnya maka ia akan bernasib sama dengan keluargaku,, sawah kami yang bentar lagi panen dibakarnya dengan api oleh orang bayarannya tengah malam, dan kemudian esok harinya pa Marmo seakan ingin menolong bilang akan memberi pinjaman 2 juta kepada kami untuk menolong kami karena melihat kondisi keadaan kami, dan ia bilang sawah yang hangus sementara akan dipegang sertifikatnya untuk mengikat tanggung jawab kami.. ayah yang tidak bisa baca tulis menandatangani surat perjanjian diatas materai.. dan ternyata dalam surat licik yang dibuat pak Marmo itu tertera bahwa tenggat waktunya adalah empat belas hari setelah ditanda tangani surat tersebut, coba kalian pikirkan bagaimana mungkin petani miskin seperti bapak bisa mengembalikan uang sebanyak itu dalam tenggat waktu hanya dua minggu..

Dan pada hari yang tertera disurat perjanjian itu,pak Marmo kembali kerumah kami beserta 6 tukang pukulnya, ia menagih hutang kami dan ayah memintanya untuk menangguhkan selama 6 bulan.. dan kemudian.. tukang pukul itu mengeluarkan parangnya dan mulai menghabisi ayah,, dan ayah meninggal dengan posisi kepala di injak oleh Marmo biadab … arghhhhhhhhhhhh……. Rasanya aku sangat kesal, rasa benciku pada pak Marmo belum hilang meskipun aku sudah membalasnya.. aku buat ia pailit dan kemudian hidupnya kubuat amat menderita sampai akhir hayatnya dengan melihat anak cucunya kepermainkan…

Pengalaman pahitku lah yang merubah kepribadianku, dulu aku tak seperti ini, aku dulu amat pemurah dan penyayang dan tidaklah licik.. namun dari pengalamanku yang mengajarkan bahwa jika jadi orang baik maka selama hidupmu akan menderita itulah makanya aku berubah menjadi sadis dan tak punya hati.. juga licik dalam menjalankan bisnisku..

Aku tertunduk mengingatnya.. tidak seharusnya aku bertindak curang dan licik seperti ini hanya karena aku tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Marmo dimasa lalu kepada keluarga kami.. justru kini aku malah menjelma menjadi Marmo yang sadis dan tidak berhati… tuhaan…ampuni hamba,,

==========================================================

“Fauzi, mana si Fauzan itu?dia ini main main saja kerjaannya.. dia dikunjungi oleh temannya malah dia ngilang.. cari fauzan sana!”ketus si sipir. Ih,, rasanya aku ingin melakban mulut si sipir cerewet itu…

Ah, Fauzan kemana pula lagi diaa.. nyusahin orang aja..  “No, lo liat si Fauzan kagak?” Tanyaku pada Parno yang sedang ngepel.”di ruang kesenian kali Zi, si Ojan kan seneng banget tuh ke sana abis nyabutin rumput”

Dan benar kata Parno, kudapati Fauzan sedang mengelap kuasnya..”Zan, lo dapat kunjungan tuh, gih sana cepet, nanti si sipir mulut dower itu memotong jam kunjunganmu lagi..”  mendengar itu fauzan lalu bergegas pergi, dan aku sendiri di ruang kesenian,, kudapati banyak lukisan di sana, lukisannya bagus bagus,, dan ada lukisan yang menarik hatiku.. disitu kudapati lukisan seorang ibu yang sedang memegang canting batik, dan seorang remaja yang melihat sayang ke arah ibu itu,, namun mata remaja laki laki itu menyiratkan  lesu dan ada sedih di pelupuk matanya, ia tampak ingin menyuratkan sesuatu,, dan remaja itu menggenggam robekan kertas yang ia pakai untuk membungkus gorengan, kertas itu tertera berderet angka dan tertera nama seorang laki laki tampaknya.. ah, entah mengapa aku jadi ingat ibu.. ibu,apa kabarnya beliau? Dulu ibu selalu membatik dan menjualnya ke pasar beringharjo dan aku terpaksa putus sekolah untuk membantu ibu.. saat itu aku amat dekat dengan ibu tapi sekarang,, ah, ibu.. maafkan Fauzi bu..

Aku  terus menjelajahi ruangan yang sesak akan lukisan itu..ada lukisan yang jatuh tepat didekat kakiku karena kecerobohanku.. dan dilukisan itu ada hingar bingar panggung pertunjukkan dan seorang pemuda necis menggenggam tangan wanita.. Sonia.. wanita itu mirip Sonia, ia begitu cantik dan mempesona, gerak geriknya lembut  namun ia juga licik.. dia yang sengaja menyebarluaskan video itu ..  aku tak berdaya dengan rayu Sonia.. sungguh bukan kemauanku,, oh Tuhan.. apa yang sudah kulakukan ini,, masihkah ada jalan untukku untuk berubah?


[1] Kutu kubangan, Wulan W.E

One thought on “1 Sel 3 Kehidupan (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s