1 Sel 3 Kehidupan



Dendang melodi,nada bertuai

Gemulai menghentak dikit dikit

Satu sen hari ini,

Atau memar pulang dengan keroncong lagu perut[1]

“Jan.. ayo jangan lama lama,, udah 3 kali tu 74 lewat,bisa bisa kita kena gampar lagi ama bang ajo, kita setor apa nanti? Cepetan Jan!” teriak yaser dengan tinggi sopran

“iye iye,, pan gw Cuma kebelakang bentaran ajaa,, nih uda siap ni gw.. ayo cabuut”

Seperti hari hari biasanya rutinitas kami tidak ada yang berubah dari fajar membentang hingga suntuk malam menggema kami merapel jalanan menjadi selebritris kelas teri metromini,, walau teri kelas kami, tapi kualitas kami hiu punya,, merdu suara berani tanding sama Christian bautista atau siapa lah itu diva yang paling terkenal,, hanya saja kesempatan yang berbeda tampaknya, mereka berduduk diatas alphard kami di metromini, mereka tidur di latex empuk kami cukup papan dipan yang lapuk…

Hidup kami bergantung akan kemurahan hati penumpang yang sesak memenuhi metromini, hari ini untuk makan hari ini, besok perkaranya nanti.. kami inginnya tidak dijalan,banyak asep ,sesak tersedak. Namun inilah takdir aku dan Yaser ,kaki merapel jalan dengan suara tak berolah untuk rupiah, kami berdua tidak pernah terpisahkan, bertemu dibawah deru nafas yang sama saat dikejar kejar satpol pp 5 tahun yang lalu,dan kesamaan latar belakang sebagai yatim piatu beradik 3 dan banyak lagi kesamaan takdir yang tuhan berikan pada kami itulah yang membuat kami solid dan saling membahu bahu untuk menempuh hidup yang keras karang,,

“..Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah

  Jangan menyerah jangan menyerah…”[2]

“ya ibu-ibu, bapak bapak, kami mohon sekiranya kemurahan hati bapak ibu untuk kami melanjutkan hidup, satu sen yang bapak ibu berikan kepada kami membuat 8 anak manusia bertahan hidup.. kami, harus memberikan makan untuk ke enam adik kami di rumah.”pintaku dengan nada mengiba agar banyak yang memberi uang kedalam kaleng yang aku edarkan,,

“Jan, kita turun di Radio Dalam situ aja yah, gw pusing kunang kunang Jan.. “. Memang wajah yaser kulihat pucat pasi kepalang bukan main,, ia sudah seperti tak bernadi, iba juga aku melihatnya..

“iye ser, gw juga capek.. kita ngaso bentaran dulu yah,,” dan kami pun akhirnya turun dari metromini yang sesak..  sembari yaser duduk mengaso sambil ngeteh, aku pun kembali ke lampu merah untuk mengamen,, lumayan lah 10-15 menit bisa nambah nambah..

..Namun tak kau lihat,

            Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..”[3]

Setelah ku lantunkan bait itu, aku mendengar suara teriakan minta tolong seorang ibu yang kecopetan, sontak nurani ku langsung bergerak dan aku pun langsung mengejar copet itu, namun keadaan terbalik,si copet malah meneriaki aku balik sebagai copet, langsunglah aku di bonyoki oleh warga yang emosi,bentukku sudah tidak berbentuk, namun kemudian aku dengar ada suara suara yang bilang  ‘sudah sudah, kita bawa saja copet itu ke kantor polisi, jangan kita main pukul disini,,’ dan kemudian aku tersadar sudah berada di sel..

……………………………………………………………………………………………………………………………

“Mas Fauzi, Mas Fauzi kenapa anda dipanggil oleh kepolisian Mas Fauzi? Apa betul terkait dengan kepemilikan obat obatan terlarang? Dan juga dengan beredarnya video panas itu Mas Fauzi? Tolong konfirmasinya Mas Fauzi” cuap kuli tinta yang penasaran dengan kedatanganku ke mabes polri kali ini,, dan aku hanya bisa terdiam dan tertunduk,karena semua yang mereka bicarakan betul adanya, aku dipanggil Kepolisian karena di duga memiliki obat obatan terlarang dan partisipasiku dalam video tidak senonoh bersama pacar ku..

Semua perbuatan itu membuat karirku hancur berkeping keping,, nama baik yang aku bangun bertahun tahun hancur seketika,, perjuangan selama belasan tahun di belantika musik tanah air seperti tiada bekasnya, masih kuingat betul 13 tahun yang lalu aku bukanlah siapa siapa, aku hanya seorang pekerja seni yang melalu lalang kafe saja, honor yang kuperoleh hanya 200 rb sedangkan aku sebagai anak sulung haruslah menjadi tulang punggung keluarga, ayah adalah pekerja serabutan karena beliau tidak mengenyam bangku sekolah tinggi, ibu adalah perajin batik yang memasarkannya ke pemilik kios di pasar beringharjo, penghasilan beliau berdua kurang dari cukup untuk membiayai sekolah kami. Dan karena aku anak sulung,aku merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu ayah dan ibu, setamat SMA aku tidak meneruskan sekolahku dan mencari uang dengan berjualan makanan ringan di sekitar malioboro, semua cita cita ku untuk jadi Pilot Angkatan udara NKRI kandas sudah,, tidak ada lagi buku pelajaran, sebagian teman temanku pun jarang mengunjungiku setelah aku putus sekolah. Hanya teman temanku di “The Panther” yang tetap setia, mereka tetap mengajakku untuk latihan band dan mereka pula yang menyemangatiku..

Bersama The Panther lah aku kemudian merajut mimpi.. dan mimpi menjadi terwujud, kami akhirnya ke Jakarta dan mendulang sukses disini hingga akhirnya hari senin kemarin sebenarnya bukan senin kemarin lah penyebab kehancuran karirku tapi semenjak aku berubah menjadi seseorang yang menjadi buta akan kehidupan, gaya hidupku berubah karena bergelimang harta dan wanita cantik yang selalu ada di banyak kesempatan kutemui, semua nasehat ibu aku abaikan dan aku malah mencaci beliau.. sungguh hal yang sangat biadab yang sudah aku lakukan.. entah apa yang ada di benakku,entah setan mana yang telah merasuki tubuhku.. hingga aku menjadi biadab bukan kepalang adanya.. Tuhan.. jika waktu diberi,, satu kali saja..

Ping,, Blackberry ku berbunyi, kulihat layarnya dan kudapati BBM dari pengacara ku yang seperti ini:

Kepolisian sudah menaikkan statusmu dari saksi menjadi Tersangka.

Kau kemungkinan akan terkena UU pornografi dan KUHP, besok kau harus menghadap lagi..

Lemas seluruh tubuhku mendapati BBM  itu ku baca,, tak ada kata lagi yang bisa ku ucapkan,,

Sel, sel,,, telah menanti biadab busuk yang adalah aku ini.. terintik air mata dari pelupuk mata ku ditengah malam suntuk,,

“ ..Aku lalai dihari pagi

            Beta lengah di masa muda

            Kini hidup meracun hati..”[4]

………………………………………………………………………………………………………

“..Harganya berapa?

Penyidiknya sewanya berapa?

Oh,, murah,,

Gampang lah, bisa diatur,,

Nanti diurus aja yah..

Cincau cincau lah boss..”[5]

Itu akhir dari percakapanku dengan hakim yang menangani kasus ku,, yah,, sekali lagi uang berbicara,, ternyata hanya uang memang yang berkuasa,, tiga hari disel, tapi tidak ada yang bisa menegurku karena aku membawa cellphone dan  kedalam sel,home theater,ruang karaoke pribadi,makanannya juga enak, dan juga sel ku pun telah ku ubah menjadi  ruang kerja pribadiku dan bisnis tidak ada yang mandek.. akses internet bagus,, 3 hari yang lalu, aku mengajukan  permohonan pemasangan internet di LP dengan jaminan aku yang akan membayar tagihannya dan juga kujanjikan uang tentunya,,  haha,,

Ah, coba acong lebih belut,, jadinya tidak perlu mendekam dipenjara,, acong itu memang kurang hati hati.. gara gara dia kurang canggih memanipulasi data akhirnya aku mendekam disini,, kalau saja untuk data pengadaan mobil ambulans dan pajak perusahaan yang dimanipulasi acong sempurna,aku kan tidak ada disini jadinya,, sudah gitu dia malah bawa bawa nama aku lagi dipengadilan,, nggak tau diuntung acong ini sudah di sekolahkan di kasih kerjaan eh malah bawa bawa lagi,,

Iya.. aku memang bukan orang baik kuakui itu, kerjaanku kotor.. memanipulasi data untuk mendapatkan untung besar dan juga kerap menyogok sana sini untuk memuluskan bisnisku.. dan semenjak dulu semuanya tidak ketahuan hingga saat ini, pada kasus pengadaan mobil ambulans saya terjebak..  tapi aku menjadi begini juga bukan karena tidak ada sebab.. hidup di Jakarta ini susah, banyak yang licik dan kalau kita tidak licik dan menjadi orang baik maka yang ada adalah keterpurukan yang didapat dan mana mungkin saya bisa hidup enak kalau jalan yang saya pilih adalah yang baik baik..

Sebenarnya saya selalu merasa sedikit bersalah karena kerap melakukan kecurangan.. tapi pengalaman pahit saya membuat saya menjadi bengis dan tidak berperasaan.. saya mematikan hati saya karena jika hati itu tetap hidup maka saya akan menjadi rapuh dan ragu ragu setiap harus mengambil keputusan..

Pengacara saya yang saya bayar amat mahal sedang mengusahakan banding agar vonis hukuman saya diperingan, dan saya bisa bebas,,, yah, walaupun fasilitas di sel ini bisa dibilang cukup nyaman juga setelah direnovasi tapi tetap saja ini penjara..

berlanjut..


[1] Lagu perutku, Wulan W.E

[2] Jangan menyerah,D masiv

[3] Malaikat Juga tahu,Dewi Lestari

[4] Menyesal, A.Hasjmi.

[5] Cincau, Wulan W.E

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s