Memo Kita

created by : Wulan W.E(Me)

“Jes, ini partner kerjamu untuk proyek ini, putra” kata papa . dan aku betul terkaget kaget akan sesosok yang ada dibalik papa, Dia…..  dan ia membawaku pada memori hari pertamaku di kelas  3 SMA, saat itu beberapa teman mencalonkanku untuk menjadi ketua kelas, awalnya aku enggan tapi karena mereka jua berkeras hati maka akhirnya aku mau saja. Dan termunculah 3 kandidat, aku,ia dan satu orang lagi aku lupa siapa namanya dan beberapa saat kemudian voting pun dimulai, dan terus secara menerus namanya disebutkan pada saat penghitungan, hingga waktu habis .. terbilanglah ia sebagai empunya jabatan, dan aku terheran heran Karena  tak pernah sedetik persekian pun aku mendengar namanya namun mengapa ia menjadi yang terpilih? Tanda Tanya berpusing-pusing di kepalaku , siapa sih dia? Apa bagusnya dia? Sampai akhirnya aku memperhatikan gerak geriknya setiap hari untuk tau apa keistimewaannya,,

“Jes, kamu mengertikan? Inget loh Jes proyek ini adalah kunci untukmu untuk sesuatu yang lebih besar, cita citamu akan papa wujudkan jika kamu berhasil dalam proyek ini,,”Papa membuyarkan lamunanku, dan kemudian aku paksakan tersenyum terhadapnya.

“Jasmine, lo Jasmine kan? Inget gw kan?” Tanya Putra sambung menyambung tak henti. Jantungku semakin berdetak, aku bingung menjawabnya..

Dan hanya dengan senyum simpul kupaksakan untuk menjawab sebiasa mungkin “Iya, Jasmine si Bendahara, Ketua” dan tampaknya kata-kataku itu mencairkan suasana kutub, ia tertawa renyah yang membuatku semakin merasa kikuk, untungnya waiter segera datang dan menyerahkan menu kepada kami dan setelah memesan makanan lalu ku alihkan topic pembicaraan ke urusan proyek yang akan kugarap bersamanya. Papa yang melihat kami telah akrab dan tenggelam dalam urusan proyek akhirnya mohon diri karena masih harus bertemu dengan koleganya.

Setelah makan siang, Putra mengajakku untuk melihat langsung ke lapangan dan aku dengan bersemangat menyetujui usulannya dan sampailah kami di lokasi. Waktu berjalan terlalu cepat, kami hanya sempat meninjau lapangan, meeting dengan PLN, meeting dengan project manager, dan menyelesaikan 15 % dari laporan yang harus kami presentasikan lusa.

Pada saat makan malam, aku masih tetap bingung harus bicara apa pada Putra hingga akhirnya aku memilih untuk bungkam.

“Hari itu, mengapa kamu tidak datang?” Tanya putra dengan pelan serak.

“Aku tak janjikan padamu akan datang kan? Kau tetap saja bersikeras menungguku” belaku dengan rasa penyesalan mendalam, Karena hari yang dimaksud putra adalah hari dimana 3 hari sebelum keberangkatannya ke Singapore menyusul keluarganya yang telah berada disana dan aku sama sekali tidak tahu bahwa ia akan ke Singapore juga, setelah ayahnya pindah dari Indosat ke Singtel, hingga aku memutuskan untuk tidak datang ke pizza hut pada hari itu.

“iya juga yah, memang kau tak janjikan datang hari itu, bodohnya aku terus saja menunggumu berkeyakinan bahwa kau akan datang.. haha” katanya dengan tertawa lepas. Seharusnya ia mengumpatku,menyalahkanku,marah atau sekedar mengungkapkan rasa kecewanya dengan apa yang telah aku lakukan untuk menghapus penyesalan & rasa bersalah mendalam selama 5 tahun lebih. Salahkan aku Putra, pintaku lirih dalam hati. Ia kemudian mengganti topic pembicaraan ke hal hal umum seperti piala dunia, gayus, dan lain lainnya.

Putra bersikukuh mengantarkanku ke rumah, walau aku tolak berkali kali, padahal kubilang padanya bahwa aku membawa mobil sendiri dan ia malah bilang “ Kau ini perempuan Jes,dan ini sudah malam, aku harus memastikanmu selamat sampai rumah. Aku akan mengikuti dibelakang mobilmu hingga kau sampai rumah kalau begitu” pipiku terasa panas mendengarnya,kurasa mukaku merah padam karena perhatiannya kepadaku. Dan benar saja mobilnya ada dibelakangku hingga aku masukkan mobilku kedalam garasi, dan aku pun menawarkannya untuk masuk dulu untuk minum teh dan berbincang bincang sebentar dengan papa, karena aku tahu persis bahwa papa akan senang betul berbincang bincang dengan putra mengenai apa saja terutama proyek ketimbang denganku. Namun, putra menolaknya halus dengan alasan “Sudah terlalu malam, Ayahmu pasti butuh istirahat” dan aku pun tak bisa memaksanya.

*************************

Semalaman aku tidak bisa tidur, terbayang jelas olehku kejadian kemarin dan 5 tahun lalu dengan sangat jelas sejelas jelasnya jelas.

Saat di kantor, Putra menyapaku besertaan dengan berkas berkas yang harus aku selesaikan tentunya, ya.. kami memang akan selalu ketemu sampai proyek ini selesai saja..

“Jes, yang ini harus kita kirimkan adendumnya pada pak Yudi sekarang nih Jes.”kata Putra.

“Sudah di email ke pak Yudi?”tanyaku

“Bukan itu maksudku, kalau aku sudah berhasil mengirimkannya dengan email, maka aku tidak akan memberitahukanmu Jes. Email pa Yudi itu di hack orang dan ia minta dikirimkan via kurir saja”

“Ya sudah, kalau begitu biar kusuruh kurir aja, mereka pasti banyak yang lagi nganggur” potongku

“Nah itu dia, semua kurir sedang keluar begitu kata mba Sinta sekretarismu dan tidak ada seorangpun dikantor dan terpaksa harus kita yang mengantarkannya”tegas Putra terkesan buru buru.

“Ok, akan aku siapkan semuanya kalau begitu berkas berkasnya, yang mana saja yang harus dibawa?”

Diperjalanan aku membuka pertanyaan yang menjadi tanda tanyaku dari dulu

“Put, waktu itu mengapa kau ingin bertemu denganku hari itu? Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Hmm,, hal itu yah?hmm.. “ dia tampak ragu ragu antara ingin menjawab pertanyaanku atau tidak dan aku semakin mati penasaran dibuatnya.

“Ya.. aku mati penasaran dibuatmu hingga kini”jawabku mantap dan cemas dengan kata katanya selanjutnya.

“Haha.. kau ini lagaknya.. seharusnya kau tanyakan itu pada hari itu,bukan sekarang.” Ia menertawaiku.

“Tega sekali yah kau Put,tertawa di atas penderitaan orang, kau tidak mau jawab juga tidak apa apa, menyesal aku bertanya padamu”

“Hei,, kau ngambek yah? Ayolah.. Hari itu aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal aja kok, aku hanya ingin memberi tahumu bahwa aku akan berangkat, itu saja.”

“Kau bohong Put, kalau itu saja kau pasti akan meneleponku saja atau datang ke rumahku, bahkan saat keesokan harinya kita ketemu kau tidak bilang apa apa tentang keberangkatanmu”

“Sudahlah Jes, yang lalu biarlah menjadi kenangan dan kalaupun aku harus bilang akan kupilih waktu yang tepat”

Setelah kata katanya itu kami pun terdiam hingga sampai ke tempat pa Yudi. Entah apa yang ada dipikiran Putra sekarang,tapi yang jelas aku merasakan ada getaran kekecewaan di dalam dirinya karena hal itu. Sungguh, aku merasa tidak enak padanya.

**************************

Ini hari ke 20 setelah proyek berjalan dan proyek berjalan dengan sangat baik dibawah kendaliku dan Putra. Aku benar benar masih tak percaya hingga hari ini bahwa aku bertemu lagi dengan putra sebagai partner kerja. Putra hingga kini masih istimewa di hatiku, masih ada rasa deg deg-an saat aku menatap matanya, kalian mungkin bertanya ‘apa hubunganku dengan Putra sebelumnya hingga aku seperti ini?’ dan jujur aku pun juga tidak mengerti. Kami adalah teman dekat yang bahkan sangat sangat dekat untuk beberapa hari tapi tak pernah ada deklarasinya hanya saja itu terasa diantara kami bahwa ada sesuatu yang berbeda. Namun hal itu hanya bertahan untuk beberapa hari saja setelahnya semua kekacauan terjadi, pertemanan kami menjadi renggang dan ternyata hal itu tidak hanya dirasakan olehku saja, guru Kimia kami sempat bertanya apa yang terjadi diantara kami? Sehingga kami tampak seperti sedang marahan dan kami hanya menggeleng dan disusul dengan “tidak, tidak ada apa apa diantara kami”. Setelah itu Putra dekat dengan Naisya,sangat dekat hingga aku sangat cemburu tapi apa boleh dikata, aku bukan siapa siapanya sehingga aku hanya mendiami dia dan bertingkah amat dingin, dan itu pula lah yang membuat aku tidak datang ke Pizza Hut saat Putra memintaku , karena masih kacau dan sakit rasanya hingga untuk membalas SMS Putra aku enggan walau sudah bertahun tahun lewat.

Waktu kemudian bergulir, Putra bukan lagi bagian dari hidupku, aku mengenal banyak teman dan itu bisa sejenak gantikan posisi Putra walau aku tahu tak sepenuhnya karena berbeda adanya, Putra masih tetap ada dipikiranku walau masih samar samar saja, walau itu tidak terlepas juga kecewaku kepada Putra dan rasa ingin bertemu.

Semenjak lulus SMA,aku memang pernah beberapa kali bertemu dengan Putra secara tidak sengaja dan untungnya itu hanya sebentar sebentar saja dan kami tidak bisa bicara banyak, hingga Putra SMS aku untuk bertemu di hari itu dan aku menolak untuk hadir karena tidak siap bertemunya dan juga ingin ia tahu bahwa kehidupanku telah berubah, dan dia sudah tak bermakna apa apa dimataku walau sebenarnya sedikit kurangnya aku masih merasa sebaliknya dari perkataanku tadi.

“Maaf bu Jasmine, Berkasnya mohon ditandatangani sekarang, ditunggu pa Putra di ruang meeting bu” kata sekretarisku, membuyarkan pikiranku.

“Meeting dengan siapa?” tanyaku. “Dengan supplier bu, Ibu juga diminta kesana untuk meeting bila tidak sedang sibuk” kata Sinta.

***********************************

“Jes, makan siang dulu yuk.. Aku traktir deh” ucap Putra. “hmm, tapi ini belum selesai laporanya Put” kataku yang masih terpaku layar monitor laptopku. “udah deh tinggal dulu, nanti kamu sakit loh..” Putra setengah memaksa. “Ya udah deh,, tapi aku yang pilih restaurantnya yah..”

Pada saat selesai makan siang, Putra memintaku menemaninya pergi ke PIM untuk memilihkan kado ulang tahun untuk mamanya, dan aku tidak bisa menolak permintaannya.

“Jes, menurut kamu bagus mana yang Pink atau yang biru?” Tanya Putra kepadaku. “hmm, mamamu kan suka sesuatu yang unik Put, dan kalau menurut aku yang biru lebih unik dan kulitnya juga lebih halus”saranku.

~Ping~     ,, Blackberry ku berbunyi, kulihat layarnya dan kudapati BBM dari Mas Bayu dan isinya:

Jasmine,  km dmn?

Aku sdh di airport nih,,

Rasanya kangen sekali deh,,

Aku Langsung ke kantormu yah..

BAYU

Ya tuhan, aku lupa mas Bayu.. mas Bayu adalah tunanganku,dia ditugaskan kantornya ke Tokyo selama 3 bulan, dan aku lupa bahwa ia pulang hari ini, aduh bagaimana ini?

“Put, kamu udah dapat semuanya untuk mamakan? Kita balik yuk ke kantor, pekerjaanku numpuk nih”

“Tapi Jes, kita nggak minum teh atau apa dulu gitu?”

“Aduh Put nggak bisa, kita harus balik sekarang, harus sekarang”

“Emang ada apa sih?”

“Udah deh, kamu mau balik kekantor sekarang atau nggak? Aku pulang naik taksi aja deh!”

“iya iya.. balik sekarang”

*************************************************

Sesampainya di kantor, aku dan  Putra bertemu mas Bayu di depan lift..

“Jes,, aduh 3 bulan rasanya 30 tahun tanpa kamu Jes, sumpah aku kangen banget sama kamu, eh papa mama gimana kabarnya? Sehat- sehat kan?” kata mas Bayu. “iya, aku juga.. Alhamdulillah baik mas” jawabku dengan senyuman tentunya..  kalau boleh jujur,aku tidak terlalu kangen dengan mas Bayu. “oh ya Mas, ini Putra dia patner kerja untuk proyek kunci aku dari papa yang aku certain mas di MSN itu.. Putra ini mas Bayu.. tunanganku” kataku memperkenalkan mereka, “BAYU” “Putra”..

Begitulah perkenalan singkat mereka, aku awalnya agar ragu untuk mengenalkan Putra kepadanya,aku takut mas Bayu akan mengetahui mengenai hubunganku dengan Putra di masa lalu tapi karena kebetulan ketemu yah terpaksa aku kenalkan dan aku juga takut Putra sedikit banyak menghindariku atau mungkin akan terjadi pertengkaran di antara Putra dan mas Bayu tapi tampaknya mereka menjadi sangat akrab, saat mas Bayu menjemputku untuk makan siang bareng dan aku masih tenggelam dalam laptopku  dan setelah selesai aku lihat mas Bayu dan Putra tertawa berduaan,, dan Kami bertiga dalam keadaan baik baik saja,Putra tidak menghindariku dan mas Bayu tidak mengetahui apa apa..

*************************************

“Jes, mestinya kamu kasih tahu aku sebelumnya..”

“Mengenai apa?” tanyaku bingung

“Mengenai bayu.. kan aku jadinya berharap terlalu tinggi”

“Maksud kamu dengan ‘berharap terlalu tinggi’ apa Put?”

“Hah, hmm… maksud  aku berharap terlalu  tinggi untuk proyek  ini, makanya jangan suka motong pembicaraan dong non,, dari dulu kamu nggak pernah berubah yah,, “

Aku diam saja, karena aku pikir Putra pasti berbohong lagi dan ia menyembunyikannya dariku, padahal seandainya Putra menjawab bahwa ia cemburu dan berharap terlalu tinggi kepadaku,mungkin aku akan mempertimbangkannya…  cellphone ku bunyi..

“eh Put bentar yah,telpon dari mas Bayu”  ku lihat air muka Putra berubah saat aku mengangkat telpon dari mas Bayu. “Put, lo diajak mas Bayu nonton  tuh.. kata mas Bayu,Putra diajak aja… nanti kita ketemuan di Blitz GI,yuk cabut,,”

******************************

Kehidupanku harus berjalan,, aku tidak boleh selamanya terbawa bawa oleh Putra,, aku punya kehidupan, mas Bayu adalah masa depanku,, aku harus mantap, aku tidak boleh melukai siapapun,, antara aku dan Putra adalah masa lalu,, dan aku menjawab mantap lamaran mas Bayu dengan satu kata,, “YA”

Tapi aku hanya ingin menyelesaikan ini, aku langsung sambet memo kosong di mejaku, semoga Putra yang dulu masih sama dengan sekarang,, ia selalu membawa 2-3 novel di tasnya kemanapun ia pergi untuk mengusir kejenuhan, kebiasaan yang sama dengan kebiasaanku.. mungkin satu satunya cara agar ia tahu adalah menempel memo di salah satu novel itu,, kuambil pena dan langsung menggoreskan pena ke dalam memo:

Tuhan Pertemukan

Pasti maksud ada

Pikir menjadi irrasional

Kecewa dibuaian ternyata tak padamkan

Yang telah memang adanya untukku

Pertemuan sungguh anugrah

Dilema tapi hidup harus bernafas

Aku tak bisa pungkiri dan tak mau ada kurban

Semua mungkin telah takdir,, takdir..

Ini menjadi pertama dan untuk yang terakhir.. ter ak hir..

Aku ingin kau tahu,,

Bahwa aku berfikir tentangmu di setiap hela nafas..

Pikiranku irasional jadinya

Biar ini jadi cerita cakrawala saja..

Aku memutar otakku bagaimana cara aku memasukkan memo itu.. dan,, sesuatu yang sangat tidak terduga terjadi.. setelah memo itu ku tulis,Putra masuk ke ruanganku dan bilang bahwa atasannya ingin lihat progress proyek yang kami garap ini dan kemudian saat presentasi ada dokumen yang Putra lupa bawa ke ruangan,dia memintaku untuk mengambil di tasnya yang tertinggal di mobil saat itulah kuselipkan dalam novelnya..

***************************************

Pada saat di Pesawat aku merasa amat sangat bosan.. kukeluarkan novel yang ku bawa tadi.. dan pada halaman 226 kutemukan memo tertanggal 8 Agustus 2010, hari yang sama saat aku menaruh memo ke dalam tas Putra.. isi memo itu adalah

08 Agustus 2010

hal ini yang ingin aku sampaikan padamu 5 tahun lalu:

aku bingung mengapa kau berdiam mendingin

bukan ia atau orang lain yang ku mau,,

aku ingin duduk seperti dulu bersama

walau mungkin tidak dalam jasmani yang berdampingan

aku berangkat.. tiga hari lagi..

kucari kesempatan untuk bicara,, tapi kau menghindar..

hari ini kan ku sampaikan

aku mencintaimu..

ku harap kau membacanya Jes..

dan kembali melangkah ke belakang,menatapku..

hal itu masih dan akan terus ada untukmu

Putra

 

Aku tertunduk… menahan haru,, aku bahagia.. walau aku memang tak bisa berdampingan hidup bersama Putra,namun aku tahu bahwa apa yang kami rasakan sama..  dan aku tak menyesalinya,, aku kini hidup tanpa penasaran dan penyesalan,, aku memang tidak bersama Putra dan itu terlarang jika terjadi.. aku akan memulai hidupku bersama mas Bayu.. biarlah perasaan Putra dan aku  menjadi catatan dalam memo,, memo kita berdua,,

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s