Obesitas

Apa Obesitas itu? orang yang berat badannya 100 kg an? belum tentu..setelah menelaah,melakukan studi pustaka,bertanya tanya kepada dokter, akhirnya saya bisa merampungkan hal hal mengenai obesitas dalam karya tulis saya waktu SMP, dan saya ingin berbagi pengetahuan yang sedikit telah saya ketahui ini..

jadi obesitas itu adalah…

suatu keadaan ketika tubuh mengalami kelebihan berat sebesar 25% dibandingkan berat badan normal per tinggi badan ; atau memiliki persentase lemak tubuh lebih dari 30% untuk wanita dan 25% untuk pria.

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

  1. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
  2. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
  3. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.

Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.

Penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dapat terlihat dengan mudah. Akan tetapi perlu disepakati suatu batasan untuk menentukan apakah seseorang dikatakan menderita obesitas atau tidak, yaitu dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badan.berikut ini cara mengukur apakah kita penderita obesitas atau tidak.

ada 2 cara yaitu:

  1. Body Mass Index
  2. Diagnosa Lemak Tubuh

Jadi kalau Body Mass index itu merupakan “Metode untuk mengevaluasi hubungan antara berat dan tinggi badan adalah Indeks Body Mass (IBM). Bahkan IBM lebih akurat karena dapat dipakai untuk analisis pendahuluan mengenai tingkat lemak dalam hubungannya dengan ukuran dan bentuk tubuh.”

Untuk mengetahui berapa besar IBM dapat dipakai Tabel 2-1di mana kolom paling kiri adalah angka tinggi badan seseorang dan angka pada baris paling bawah adalah IBM. Jadi, misalnya berat A = 69,5 kg (153 pound) dan tingginya 170 cm ( 5 ’ 7 ”), maka IBM A adalah 24.

Tabel 2-1 Indeks “Body Mass”

Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada
Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Tabel 2-2. Klasifikasi Berat Badan WHO

Seseorang yang  mempunyai IBM antara 20 dan 25 dianggap normal. Bila angka IBM diatas 25 dianggap memiliki kelebihan berat badan, dan dibawah 20 berarti kekurangan berat badan atau kurus seperti Tabel 2-2. Tetapi, bila ingin angka yang optimal yang dikaitkan dengan umur,anda dapat melihatnya pada Tabel 2-3.

Tabel 2-3 Optimal IBM

Cara pengukuran melalui Diagnosa lemak tubuh melalui 2 tahapan, yaitu:

a. Cara Mengukur Lemak Tubuh.

Tidak mudah untuk mengukur lemak tubuh seseorang. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih:

  • Underwater weight, pengukuran berat badan dilakukan di dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa.
  • BOD POD merupakan ruang berbentuk telur yang telah dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh.
  • DEXA (dual energy X-ray absorptiometry), menyerupai skening tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari lemak tubuh.

Dua cara berikut lebih sederhana dan tidak rumit:

1.   Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur  dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps).

2.  Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps).

b. Penyebaran Lemak.

Cara lain untuk mengetahui distribusi lemak tubuh adalah dengan cara melihat bentuk tubuh. Terdapat 3 macam bentuk tubuh berdasarkan karakteristik  distribusi lemak.

Gynoid (Bentuk Peer)
Lemak disimpan di sekitar pinggul dan bokong Tipe ini cenderung dimiliki wanita. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena (varicose veins).

Apple Shape (Android)
Biasanya terdapat pada pria. dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pria kurus dengan perut gendut lebih beresiko dibandingkan dengan pria yang lebih gemuk dengan perut lebih kecil

Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah “besar di seluruh bagian badan”.

Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab obesitas

II.3.I Faktor Genetik.

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.  Dalam hal ini nampaknya faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh.  Hal ini dimungkinkan karena pada saat  ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar. Menurut Dr.Peter J. D’Adamo dalam bukunya yang berjudul ”Eat Right for Your Type..” ,Golongan darah juga merupakan salah satu penyebab Obesitas yang dimana sifatnya genetik juga. Berikut merupakan data keterkaitan golongan darah dengan resiko menghidap Obesitas:

Tabel 2 –  4. Prosentase resiko Golongan darah menghidap Obesitas

 

II.3.I Faktor Psikologis

Faktor psikologis sering juga disebutkan sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya obesitas. Gangguan emosional akibat adanya tekanan psikologis atau lingkungan kehidupan kemasyarakatan yang dirasakan tidak menguntungkan, dapat mengubah kepribadian seseorang, sehinggaorang tersebut menjadikan makanan sebagai pelariaanya

II.3.III.1 Pola Makanan.

Obesitas hanya mungkin terjadi jika terdapat kelebihan dalam tubuh, terutama bahan makanan sumber energi. Manusia adalah bagian dari alam, sehingga kesehatan Anda pun tergantung pada usaha Anda untuk menyelaraskan fungsi-funsi organ tubuh dengan kehendak alam. Bilamana kunci penurunan kelebihan berat badan adalah tubuh sehat, maka yang paling utama adalah menjaga kesehatan fungsi pencernaan.

II.3.III.1 Dehidrasi.

Dehidrasi tubuh dapat menjadi akar penyebab obesitas yang sangat sering dikaitkan dengan hipertensi dan pada akhirnya akan menjurus ke diabetes. Pengumpulan dan penyimpanan lemak adalah salah satu komplikasi utama dehidrasi. Ini ditimbulkan ketika sensasi haus dikelirukan sebagai sensasi lapar, dan bukannya minum air, orang yang bersangkutan malah makan. Ini karena makanan juga diubah menjadi ATP dan lebih memuaskan bagi indra pengecap dibandingkan dengan air.

II.3.III.1 Penyakit yang diderita yang Dapat Mengakibatkan Obesitas

Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:

  • Hipotiroidisme
  • Sindroma Cushing
  • Sindroma Prader-Willi
  • Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

II.3.III.1 Obat-obatan yang dikonsumsi.

Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

II.3.III.1 Kekurangan Aktivitas Fisik dan Kemudahan Hidup.

Obesitas dapat juga terjadi karena aktivitas fisik berkurang, sehingga terjadi kelebihan energi. Berbagai kemudahan hidup juga menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik, dan kemajuan teknologi di berbagai bidang kehidupan yang tidak memerlukan kerja fisik yang berat.

Dampak Obesitas

Adanya kelebihan lemak dalam tubuh akan menjadi penghalang bagi gerakan tubuh. Karena itu, penderita obesitas akan selalu terlihat lamban dalam melakukan gerakan. Akibat gerakan lamban itu, penderita obesitas cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan, baik di rumah maupun di jalan atau di tempat lain. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:

›    Diabetes Tipe 2

NHANES III menyebutkan bahwa kurang lebih 12% orang dengan BMI 27 menderita diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling sering ditemui, yaitu sekitar 85% – 90% dari keseluruhan penderita diabetes. Obesitas merupakan faktor resiko utama pada diabetes tipe 2. Sebanyak 80% dari penderita penyakit tersebut menderita obese.

“Tingkat prevalensi (untuk diabetes tipe 2) meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan bertambahnya BMI, baik pada wanita maupun pada pria”.

Gambar 2 – 6 . Obesitas dan resiko Diabetes tipe 2.

Tingkat resiko juga meningkat seiring dengan peningkatan BMI pada pasien dewasa (lihat gambar di atas). Contohnya, satu studi pada wanita berusia 30 sampai 50 tahun – usia rentan terkena diabetes tipe 2 – menunjukkan bahwa angka resiko diabetes tipe 2 pada wanita dengan BMI 22 adalah 15.8, untuk BMI 27.0 adalah 28.9, dan untuk BMI 31.0 – 32.9 adalah 40.3. Bandingkan angka-angka tersebut pada wanita dengan BMI 35.0 yang jauh lebih tinggi, yaitu 93 kali, terhadap peningkatan/perkembangan penyakit diabetes tipe 2 ini.

Bagi mereka yang mengalami kegemukan di sekitar perut (abdominally obese), salah satu mekanisme yang diduga menjadi predisposisi diabetes tipe 2, adalah terjadinya pelepasan asam-asam lemak bebas secara cepat, yang berasal dari suatu lemak visceral yang membesar. Proses ini menerangkan terjadinya sirkulasi tingkat tinggi dari asam-asam lemak bebas di hati sehingga kemampuan hati untuk mengikat dan mengekstrak insulin dari darah menjadi berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan hiperinsulinemia. Akibat lainnya adalah peningkatan glukoneogenesis – dimana glukosa darah meningkat.

Efek kedua dari peningkatan asam-asam lemak bebas adalah menghambat pengambilan glukose oleh sell otot, dengan demikian, walalupun kadar insulin meningkat, namun glukosa darah tetap abnormal tinggi.  Hal ini menerangkan suatu resistensi fisiologis terhadap insulin seperti yang terdapat pada diabetes tipe 2.

Keadaan di atas merupakan bagian dari suatu kompleks gangguan metabolisme yang biasa disebut sindrom resisten insulin, atau sindrome X. Pada kasus resistensi insulin, ciri-cirinya adalah hiperglikemia, hipertensi serta perubahan kadar dan komposisi lipoprotein – yang meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.

›    Hipertensi dan Obesitas

Obesitas merupakan suatu faktor utama (bersifat fleksibel ) yang mempengaruhi tekanan darah dan juga perkembangan hipertensi. Kurang lebih 46% pasien dengan BMI 27 adalah penderita hipertensi. Framingham Studi telah menemukan bahwa peningkatan 15% BB dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik  sebesar 18%. Dibandingkan dengan mereka yang mempunyai BB normal,  orang yang overweight dengan kelebihan BB sebesar 20% mempunyai resiko delapan kali lipat lebih besar terhadap hipertensi.

Gambar 2 – 7. Obesitas dan Hipertensi.

›    Hiperkolesterolemia

Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas. Kurang lebih 38% pasien dengan BMI 27 adalah penderita hiperkolesterolemia.  Pada kondisi ini , perbandingan antara HDL (High Density Lipoprotein) dengan LDL (low Density Lipoprotein) cenderung menurun (dimana kadar trigliserida secara umum meningkat) sehingga memperbesar resiko Atherogenesis.

Framingham Studi memperlihatkan bahwa untuk setiap 10% kenaikan BB  terjadi peningkatan plasma kolesterol sebesar 12 mg/dL.

Dari data NHANES II juga ditemukan bahwa resiko hiperkolesterolemia (serum kolesterol 250 mg/dL) pada orang Amerika yang overweight adalah 1.5 kali lebih besar dibandingkan pada individu normal usia 20 sampai 75 tahun.

Gambar 2 – 8 . Obesitas mempengaruhi Kadar serum kolestrol.

›    Penyakit Jantung Koroner (PJK):

Kurang lebih sebanyak  40% kejadian CHD terjadi pada seseorang dengan BMI di atas 21, sehingga penyakit ini sebetulnya dapat dicegah.

›    Stroke:

Overweight merupakan faktor resiko utama terhadap stroke. Kegemukan (terutama di sekitar perut/abdomen) dapat meningkatkan resiko stroke (kondisi ini tidak tergantung besarnya BMI).

›    Penyakit Kantung Empedu:

Orang obese cenderung lebih mudah terkena batu empedu.

›    Osteoarthritis (OA):

Overweight berhubungan dengan OA pada sendi tangan dan lutut. Bagaimanapun, keterbatasan kemampuan berolah raga pada pasien OA juga dapat peranan terhadap timbulnya overweight.

›    Kanker:

Obesitas dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit kanker tertentu. Suatu studi yang dilakukan oleh American Cancer Society menjelaskan bahwa kematian yang diakibatkan oleh kanker prostat dan rektal-colon (colorectal) meningkat pada laki-laki obese, sedangkan  kanker endometrium, uterus, mulut rahim (cervix), dan indung telur (ovarium) meningkat pada wanita obese. Dibandingkan wanita dengan berat normal pada masa post-menousal, wanita obese mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara.

›    Resistensi Leptin

Leptin adalah hormon yang terkait dengan gen obesitas. Leptin bekerja pada hipotalamus otak untuk mengatur cakupan kadar lemak tubuh, kemampuan membakar lemak guna menghasilkan energi, dan rasa kenyang. Ketika anda menderita obesitas, kadar leptin meningkat tetapi kerjanya tertekan. Pada obesitas, kadar leptin meningkat seiring dengan peningkatan kadar insulin.para peneliti menyimpulkan resistensi insulin berperan dalam “hormon obesitas” ini.

›    Kelainan (gangguan) lain:

Obesitas juga berhubungan dengan varieses vena, beberapa gangguan hormonal dan infertilitas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s