Merah

Pagi ini putih

Siang ini magenta

Sore ini abu

Malam ini merah dan biru
“Semua akan baik-baik saja saat esok datang”

“Besok akan baik baik saja”

“Besok baik”

Advertisements

Sate Maranggi

Assalamualaikum wr wb

Kali ini gue mau share menu masakan yang simpel dan banyak yang suka.. yaitu sate.. mumpung lebaran haji kan yah daging daging bertebaran..

Bahan:

  1. Sejumput Ketumbar
  2. 4 buah Kemiri
  3. 4 siung Bawang putih
  4. 2 siung Bawang merah
  5. Kecap manis
  6. Daun pepaya
  7. Mentega
  8. Jeruk limo

Cara Masak:

  1. Potong cube daging khas dalam.
  2. Ulek kemiri, bawang putih, bawang merah ketumbar sampai halus.
  3. Lumuri bumbu ulek ke daging merata lalu bungkus daging yang sudah di lumuri bumbu selama 15-30 menit dengan daun pepaya fungsinya untuk marinate.
  4. Kemudian tusuk daging ke skewer.
  5. Campur kecap manis, mentega dan perasan jeruk limo sebagai bumbu oles saat mau dibakar.
  6. Lumuri daging yang sudah ditusuk dengan campuran bumbu kecap manis mentega dan perasan jeruk limo tersebut lalu bakar hingga daging matang merata jangan terlalu lama dan bolak balik skewer supaya dagingnya tetap juicy dan matang merata. Jadi deeh 

Simpel banget kan sate maranggi bikinan gue, sebenernya gue pun baru coba resep ini.. ini resep agak nebak-nebak sebenernya tapi ternyata banyak yang suka setelah mateng. Buat yang ga mau ribet sebenernya bisa aja ke pasar terus minta abangnya bumbu sate atau mungkin cari disupermarket kali ya.. 

Jadi sate maranggi kali ini dibuat karena banyak daging dirumah dan namanya idul adha kan yah identik sama sate, cuma gue ga pengen kalo cuma bakar sate pake kecap biasa doang.. pasti bingung yah kenapa gue pake bungkus daun pepaya? Karena ternyata daging yang dimarinate sambil dibungkus daun pepaya bakal ngehasilin tekstur lebih lembut dan chewy.. ini pun gue baru tau dari ibu. Kayaknya cukup segini yaah. Silahkan dicoba dirumah.

Ilusi

Saat pagi membentang

Dan terseduh kopi hangat

Ceria pagi mengundang tawa,

Dari prisma terlihat seperti itu setidaknya..

Bagai ilusi hangatnya pagi

Ilusi yang menjelma menjadi hantu

Saat mata terbuka dari tidur yang lelap sekejap

Anak dan Gadget 

Assalamualaikum Wr Wb

Beberapa hari belakangan ini ada diskusi yang menarik dengan kawan lama.. sesuatu yang belakangan ini menjadi perhatian saya dan mungkin banyak orang.. tumbuh kembang anak dan penggunaan gadget..

Generasi milenial bisa dibilang identik dengan gadget.. ya jenis gadget yang beragam jenisnya dan fitur fiturnya yang mumpuni dan mendukung beberapa kegiatan dalam rutinitas harian kita ini pasti membuat orang akan lengket dengan at least 1 gadget.. kemana mana pegang dan menggunakannya..

Beragamnya jenis dan fitur fitur gadget ini didukung dengan beragam aplikasi dan platform media sosial yang menggiurkan untuk membuat semua orang semakin lengket dengan gadget.

Lan,apa hubungannya perkembangan anak dan gadget?Dulu, Saya pribadi merasa tidak ada masalah bahwa anak anak dikasih gadget bahkan berfikir bahwa hal tersebut bisa jadi positif.. namun beberapa tahun belakangan ini saya melihat fenomena yang sangat mengerikan.. Fenomena apa? Beberapa berita dan informasi yang saya baca membuat pandangan saya berubah pikiran dimana terlihat jelas sekali bahwa penggunaan gadget pada usia belia sangat mempengaruhi beberapa aspek vital tumbuh kembang anak..

Informasi tersebut diperkuat dengan pengamatan saya terhadap lingkungan saya, yang mana penggunaan gadget dapat mengganggu interaksi keluarga, dimana masing masing anggota keluarga cenderung menjadi minim interaksi dan komunikasi antar sesama dan secara tidak disadari hal tersebut mempengaruhi psikologis anak karena bonding time atau quality time anak dan orang tua kurang baik, kurangnya interaksi ini berlanjut dengan perubahan prilaku dan pola pikir anak.. kok bisa? Ya orang tua bisa dibilang dunianya anak, role model.. interaksi dan komunikasi yang intim antar anak dan orang tua membentuk pola pikir dan prilaku anak.. anak yang punya interaksi dan komunikasi yang baik dengan orang tuanya cenderung akan lebih memiliki prinsip hidup dan tidak mudah dipengaruhi orang lain sehingga biasanya prilakunya masih dalam koridor sesuai norma. Sedangkan anak anak yang minim interaksi dan komunikasi akan mencari sosok untuk dijadikan panutannya. Permasalahannya ialah apakah anak anak sudah cukup matang untuk dapat membedakan mana hal baik dan buruk? Syukur syukur kalau dia menemukan hal hal positif dalam penggunaan gadget nya namun seringkali hal sebaliknya yang terjadi dimana anak anak yang masih labil ini terpengaruh dan mengambil panutan yang salah.. teman teman tentunya sudah seringkan denger cerita bahwa anak anak usia sd sudah mulai berpacaran dan bahkan ada dari mereka yang sudah tidak ada malunya untuk berkontak fisik dengan lawan jenis. Duh perasaan dulu saya kalau nggak sengaja kesentuh tangannya sama lawan jenis itu malu dan takut sekali,bahkan bisa dibilang sampai sekarang masih ada rasa risih dan ngerasa gimana gitu kalau harus berjabat tangan dengan lawan jenis.. kayaknya lebih suka jabatan antena yang masing masing ga harus bersentuhan tapi gestur tersebut menunjukkan penghormatan buat orang tersebut.. kayak kalau lebaran harus salam salaman se rt gitu kan cuma basa basi kan yah salamannya ga harus jabat erat tangan gitu.. 

Selain itu bisa dibilang gadget juga mempengaruhi kestabilan emosi anak, yang saya amati anak anak yang terbiasa menggunakan gadget cenderung kurang sabar dan mudah marah jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.. 

Pengunaan gadget juga mempengaruhi keselamatan anak tersebut, dimana hal tersebut memicu penculikan anak karena anak anak cenderung tidak memfilter dalam memilih teman dalam sosial media, mereka ga kenap tetap saja di accept pertemanannya dan menceritakan informasi tentang dirinya leluasa dengan orang yang tidak dikenalnya.. informasi tersebutlah yang disalah gunakan para penculik anak..

Belakangan saya pun baru tahu dari teman saya ini bahwa tidak hanya mempengaruhi prilaku dan psikologis anak saja tapi penggunaan dan lamanya paparan gadget juga mempengaruhi perkembangan linguistik anak dan hal ini sudah ada jurnal ilmiahnya..

Hal hal tersebut membuat saya semakin yakin bahwa penting sekali pengawasan gadget bagi anak saya kelak.. mungkin saya akan cenderung mengalihkan anak anak kelak untuk larut dalam permainan kreatif dan olah jasmani.. entahlah saya berpikir akan lebih baik bagi saya untuk mengarahkan anak saya untuk membuat prakarya,menggambar, berkebun, memasak sederhana, outbound, membaca dan hal hal lainnya ketimbang memberikan gadget supaya anak saya lebih anteng dan rumah rapih sentosa.. simpel aja sih mikirnya kalau rumah berantakan bisa langsung diberesin kan tapi kalau anak saya rusak saya nya malah jadi tambah repot karena Anak saya menentukan akhirat saya, toh rumah ini ga akan ditanya diakhirat nanti.. mungkin capek banget tapi masa iya buat anak coba coba..

Nah sekarang permasalahannya adalah bagamaina dengan kebiasaan saya dengan gadget?saya ingin anak saya kelak tidak ketergantungan gadget dan platform2 sosial media masa saya masih asik berselancar didunia maya?nggak fair dong.. Menilik kebelakang saya pun mengakui bahwa saya termasuk orang yang bisa dibilang kecanduan menggunakan gadget, beberapa tahun belakangan ini saya mencoba puasa gadget.. gimana caranya, pertama ketika saya berinteraksi dengan keluarga saya akan menaruh jauh jauh smartphone dan mematikan gadget gadget lainnya.. selain itu saya pun mulai meminimalisir kegiatan saya dalam interaksi menggunakan sosial media.. dari beragam akun sosmed yang saya miliki saya kini sudah bisa menutup kegiatan beberapa platform seperti bbm,path,askfm dan lain lain. Memang saya masih menggunakan beberapa platform lainnya untuk berinteraksi dunia maya.. dan saya bisa cukup bangga bahwa saya sudah bisa menghilangkan kecanduan saya nonton kdrama.. hehe.. ya sebelum saya menerapkan ke anak saya kelak maka saya harus menerapkan ke diri saya dulu bukan begitu? Hehe berat sih tapi bisalah.. Aamiin

Sebuah buku

Assalamualaikum wr wb

Beberapa hari yang lalu saya diberi seseorang sebuah buku yang ditinggalkan di dental unit rsgm kerja saya begitu saja, saya baru menyadarinya setelah selesai kerja pasien dan membereskan dental unit, masih di bungkus dengan kantung plastik gramedia dengan sticky notes “untuk ulan” dan masih ada tag harganya.. tidak ada nama orang yang memberinya.. misterius.. dan agak sedikit membuat saya takut karena judul bukunya agak spesifik.. “untukmu calon bidadariku,dariku calon imammu”

Ya hal itu membuat saya takut, judul buku tersebut seakan memberikan gambaran kira kira apa gender dari sang pengirim buku walaupun belum tentu bisa dipastikan.. jujur saja saya agak takut ketika ada seorang lelaki memberikan sebuah hadiah kepada saya atau perhatian yang berlebihan.. ada nasihat ayah yang saya ingat sampai sekarang “hati hati dengan laki-laki, jangan mau di kasih hadiah hadiah.. pasti ada udang dibalik batu, kalau ade dikasih hadiah bilang bapak yah..” 

Nasihat beliau sangat saya pegang, setiap ada seseorang yang memberikan perhatian lebih atau hadiah biasanya saya akan langsung sampaikan ke ayah.. apakah hadiah atau perhatian tersebut masih dalam batas wajar untuk diterima atau tidak..

Selain nasihat ayah, saya pribadi takut jika ada lawan jenis yang memberikan perhatian lebih terhadap saya, saya takut kalau saya tidak bisa menjaga hati saya dan terbuai atas hadiah atau perhatian yang diberikannya.. sebisa mungkin saya berusaha untuk menghindari menerima hal hal tersebut walaupun mungkin perhatian yang diberikannya baik seperti mengingatkan tahajud dll.. karena pada dasarnya semua wanita senang diperhatikan dan hal itu bahaya sekali..

 Sore itu saya langsung pulang kerumah, saya sampaikan ke ibu dan bapak mengenai buku tersebut.. respon awalnya adalah “siapa yang ngasih?” Saya pun tidak tahu.. saya sampaikan bahwa saya ingin mengembalikan hadiah buku ini kepada yang ngirim tapi bingung mau kembaliin ke siapa.. lalu ibu pun bilang “gausah dikembaliin dan repot cari siapa yang ngasih, disimpen aja bukunya dibaca aja.. orang yang ngasih ini niatnya baik dan sepertinya buku ini bagus isinya..ambil aja mutiara didalam buku ini”

Kemudian saya pun membuka sampul plastik yang membungkus buku tersebut dan merampungkan membaca buku tersebut dalam kurun waktu 1  jam  kepotong aktivitas2 lain soalnya..

Kesan saya terhadap isi buku ini, buku ini bagus dan isinya seperti materi kajian kajian pranikah yang pernah saya ikuti, dan beberapa harapan dan nasihat dalam membina rumah tangga nantinya namun dalam penyampaian yang berbeda dengan pendekatan orang pertama yang langsung menyampaikannya.. 

Overall saya suka dengan hadiah tersebut, banyak pandangan pandangan tentang konsep pernikahan,membina rumah tangga,pendidikan anak yang sama dengan pandangan saya yang diulas dalam buku tersebut. Selain isi bukunya memang bagus, saya sendiri memang suka sekali beli dan baca buku.. i could spent millions for books without any regret than spent millions for some dress,bag and shoes..

Dilain kesempatan, saat sedang jalan saya mampir ke toko buku dan cek ada ga buku buku yang bisa menginspirasi dan menutrisi otak saya.. ada sekitar 10 buku yang saya beli dan yang paling berkesan menurut saya adalah buku nya mba retno hening dengan judul happy little soul dan buku menuju keluarga hafizul quran.. kedua buku tersebut membahas tentang parenting dan bagaimana cara mereka dalam mendidik anak…

Saya memang agak concern dengan pendidikan anak belakangan ini.. selain melihat generasi anak dan remaja saat ini yang memprihatinkan, saya pun mulai berpikir mengenai visi misi dan konsep apa yang cocok untuk saya terapkan dalam pendidikan anak saya kelak.. 

Dari kedua buku tersebut saya mendapat sebuah pencerahan bahwa perlunya kerjasama proaktif diantara suami dan istri dan kesamaan visi misi dalam pendidikan anak sehingga nantinya bisa dirumuskan konsep pendidikan anak bagaimana yang akan diimplementasikan untuk anak anak nantinya..

Ada harapan saya bahwa anak anak saya kelak bisa tumbuh menjadi anak anak yang memiliki hafalan Alquran, berhati lembut,cerdas dan berjiwa kuat.. 

Harapan dan cita cita tersebut merupakan hal besar dan mungkin tantangan tersendiri nantinya.. saya pun sadar saat ini saya bukanlah siapa siapa.. orang orang mungkin akan bilang harapan saya ini mungkin terlalu muluk mengingat saya bukanlah jebolan pesantren dan belum menjadi hafizah.. ya seorang anak yang hafiz biasanya memiliki ibu yang hafizah bukan? Tapi saya percaya bahwa semua niat baik dan diupayakan dengan cara yang baik dengan harapan ridha Allah akan memberikan hasil yang baik.. meski harus tertatih tatih saya akan terus semangat belajar untuk bisa menjadi madrasah yang baik untuk anak anak saya kelak insyaAllah..

Belajar dari kakak saya dan kakak ipar saya dalam mendidik anak anaknya, saya menjadi paham bahwa konsep tauhid adalah hal pertama yang harus ditanamkan dalam pendidikan anak.. menumbuhkan kecintaan akan Raabnya, Rasul dan Al Quran adalah hal utama yang harus diperkenalkan.. dan hal paling efektif ialah dengan contoh konkret tidak hanya memberikan arahan saja.. saya pribadi kagum dengan cara parenting kakak saya dan kakak ipar saya.. dalam usia yang masih belia.. keponakan keponakan saya mampu menghapalkan surat Ar Rahman,AnNaba,AnNaziat, dan masih banyak surat surat pendek AlQuran lainnya.. oh yah,selain itu kebiasaan selalu shalat berjamaah di masjid kakak ipar saya ini merupakan hal positif yang sangat mempengaruhi pendidikan anak anaknya dalam menerapkan konsep pengenalan tauhid dan kebiasaan yang baik bagi anak anaknya yang hal ini sudah terlihat menjadi kebiasaan yang disukai oleh anak anaknya.. saya ingat cerita kakak saya bahwa anak bungsunya zia  yang berusia 3 tahun pernah menangis karena tidak dibangunkan shalat subuh, zia bilang ke kakak saya “ibu kenapa ga bangunin zia?zia kan pengen shalat subuh berjamaah sama kayak ayah” dan juga betapa sigapnya abang zaid saat adzan sudah berkumandang untuk ikut ayah atau yangkungnya shalat berjamaah dimasjid.. saya rasa kebiasaan ini merupakan hal yang sangat positif bagi perkembangan anak.. kebiasaan ini akan membentuk karakter dirinya dan membentenginya dari pergaulan yang kurang baik kedepannya.. semoga kelak suami saya pun memiliki kebiasaan yang sama seperti ayah dan kakak ipar saya yaitu membiasakan dirinya shalat berjamaah dimasjid tepat waktu sehingga itu akan dicontoh anak anak kelak.. ya, peran kerjasama ibu dan ayah  dalam mendidik anak sangat besar sekali.. ibaratnya ibu memang madrasah anak namun madrasah pun perlu seorang kepala sekolah yang menjadi contoh murid muridnya dan disitulah peran seorang ayah menjadi role model yang baik bagi anak anaknya..

Terkadang hal hal tersebutlah yang membuat saya galau.. galau bahwa apakah sudah cukup persiapan saya menjadi madrasah bagi anak anak saya kelak? Ya saya lebih galau pada hal hal seperti itu ketimbang galau mempertanyakan siapa suami saya kelak seperti kebanyakan orang.. ya kalau yang itu sih menurut saya biar Allah yang menunjukkan jalanNya tugas kita ya terus memperbaiki diri tanpa lelah.. karena menjalani pernikahan tidaklah selalu diisi dengan hal hal indah saja, namun juga harus dipersiapkan hal hal yang memerlukan pemikiran dan konsep untuk menyelesaikan masalah masalah yang kemungkinan akan ada dalam perjalanan itu.. dan kalau ujian aja kita berusaha mempersiapkan sebaik baiknya maka sudah seharusnya menikah pun dipersiapkan dengan sebaik baiknya.. bukan mempersiapkan resepsinya saja loh tapi harus sangat dipikirkan kehidupan pasca menikah akan dibawa seperti apa itu yang rasanya harus diutamakan dalam mempersiapkan pernikahan.. hehe

Ibu

Assalamualaikum wr wb

Hari ini saya mau banyak cerita tentang sosok luar biasa yang selalu ada dibelakang saya.. dan juga pandangan saya atas luar biasanya peran seorang ibu bagi semua insan dan peradaban dimuka bumi ini.. 

Buat saya dari kecil ibu saya adalah dunia saya, dimana ada ibu saya disana ada kebahagiaan dan kehangatan.. 

Beberapa tahun ini saya semakin menyadari betapa hebatnya seorang ibu.. kok baru beberapa tahun ini lan sadarnya? Haha sabar yaah.. jadi saya mau cerita dulu yah..

Bisa dibilang dengan kelahiran keponakan keponakan lucu dikehidupan saya membuat saya semakin paham akan peran ibu dan pengorbanan-pengorbanan seorang ibu dalam membesarkan, membimbing anak anaknya..

Dulu, waktu kakak zah masih dalam kandungan kakak saya, ada sedikit rasa gelisah takut dan jealous kalau semua perhatian akan tertuju pada kakak zah baik dari kakak saya maupun dari ibu dan bapak, selain itu kelahiran kakak zah juga merupakan momen pertama buat saya menjadi seorang kakak dan tante mengingat saya adalah anak terakhir yang tidak pernah menjadi kakak.. ada rasa was was kalau saya tidak bisa melindungi dan menjadi teladan yang baik buat kakak zah..

Setelah kakak zah lahir, semua rasa tersebut ternyata hilang begitu saja.. yang ada rasa sayang dan ingin memberikan terbaik untuk kakak zah.. untuk pertama kalinya buat saya mulai interest dan belajar tentang hal hal berbau parenting.. 

Kakak saya adalah seorang ibu dan wanita karir yang hebat kedua setelah ibu menurut saya.. beliau sangat mendedikasikan dirinya untuk keluarga dan dapat membagi waktu dengan baik dengan pekerjaannya.. sebagai seseorang yang bergelut dibidang teknik maka kakak saya terkadang tender sampai larut dan harus menitipkan kakak zah dirumah ibu, saat itu kakak ipar saya masih disemarang sehingga kakak zah ga bisa ditinggal sendiri dirumah saja dengan suster diwaktu malam..

Banyak hal yang saya pelajari saat saya kedapatan membantu ibu menjaga kakak zah.. dari mulai bikinin susu malem malem, gantiin diaper berkali kali, meninabobokan kakak zah yang masih bayi sampai belajar dan bermain..

Dalam satu malam ternyata bayi bisa terbangun minimal 3x, minta minum susu, ganti diaper, dan saat merasa kurang nyaman dalam tidurnya.. saya yang cuma beberapa hari aja dititipin ada rasa lelah setelahnya.. bagaimana seorang ibu yang sudah bisa dipastikan full day 24/7 merawat anak sampai dewasa..

Belum lagi saat sakit, saya inget banget waktu itu abang zaid sakit dirawat dan kakak saya pontang panting dan tampak sangat sedih serta khawatir walaupun sama sekali tidak menampakkan rasa lelah dan khawatir didepan abang zaid.. melihatnya saya jadi teringat ibu yang selalu ada untuk saya saat saya sakit, selelah apapun ibu, ibu akan tetap tersenyum dan terjaga siap sedia disaat saya membutuhkan..

Beranjak usia sekolah triple z, saya pun belajar dari kakak saya bahwa pendekatan dalam komunikasi dengan masing masing anak berbeda, kalau kakak zah lebih harus pendekatan dengan penjelasan verbal secara rasio, abang penjelasan verbal dengan menyentuh hati, sementara zia lebih suka mengekspresikan dan berkomunikasi disertai dengan sentuhan.. pentingnya encouragement dan apresiasi dalam komunikasi dua arah dimana orang tua juga harus mau mendengar anak dan memposisikan anak sebagai partner diskusi dalam berkomunikasi.. ada hal yang sangat saya ingat dari ibu saya, waktu dulu saya adalah anak dengan rasa ingin tahu tinggi dan senang komunikasi dengan orang orang yang lebih tua serta senang diskusi.. beberapa orang tidak begitu suka dengan sikap kritis saya, dan beberapa kali sering bilang “ah anak kecil jangan ikut ikutan ini urusan orang dewasa” saat itu saya sangat sedih, saya bahkan masih inget rasa nya seperti apa.. saya menangis sejadi-jadinya ke ibu.. lalu ibu bilang ” kedewasaan itu bukan perkara usia, dewasa itu adalah pola pikir. Bagaimana seseorang bisa bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan. Jangan sedih dibilang gitu.. karena bisa jadi ade lebih dewasa dari orang yang bilang gitu karena ade bisa menyikapi dan memaafkan orang tsb”. Kalau diingat dan dipikir-pikir itu adalah bentuk encouragement dan apresiasi.. mungkin jika ibu ga bilang begitu maka saya akan menjadi pribadi yang berbeda dari ulan yang hobi nulis,menganalisa dan berpetualang..

Jadi ulan ga pernah berantem yah sama ibunya? Yah ga gitu juga.. namanya hidup pasti ada saatnya kita beda pemikiran dan terlibat dalam adu argumen dengan ibu.. tapi saya inget nasihat mba fitri dan aki.. “kalau ibu atau bapak nasihatin atau beda pendapat jangan ngelawan, diam dengar aja apa yang mau disampaikan orang tua.setelah ibu atau bapak selesai baru sampaikan pemikiran kita dengan suara lembut..” ya, saya lebih memilih menghindari perdebatan berkelanjutan dengan ibu dan bapak.. sederhana, buat apa sih saya ngotot menang dalam argumentasi dengan ibu jika mengalah dapat membuat ibu saya hatinya tidak terluka.. bagaimana kala hal hal prinsip? Saya cenderung memilih menangis terkadang untuk meluapkan dan mengekspresikan perasaan saya kalau saya beradu argumen dengan ibu atau bapak jika memang yang dibahas hal hal yang prinsip menurut saya.. atau saya biasanya secara persuasif  secara repetitif dalam menyampaikan gagasan saya..

Ibu, adalah anugrah terindah yang Allah berikan untuk saya.. betul betul malaikat tak bersayap..

Beranjak dewasa saya semakin juga saya sadar semakin tua dan melemahnya ibu saya.. namun dari segala keterbatasan tersebut ibu tetap memberikan hal terbaik yang bisa dilakukannya.. saya yakin hal ini pula yang dilakukan semua ibu didunia ini untuk anak anaknya..

Kemudian ada pertanyaan besar dibenak saya… mampukah saya menjadi ibu yang baik kelak? Ibu yang merupakan madrasah anak anaknya, ibu yang bisa jadi sahabat, dokter,mentri,satpam dll nya?ibu yang tak akan pernah lelah dalam merawat dan membimbing anak anaknya kelak? Ibu yang merupakan rumah dengan penuh kehangatan yang senantiasa dirindukan anak anaknya?

Pertanyaan pertanyaan tersebut terkadang membuat saya terpacu untuk belajar dan lebih mempersiapkan diri saya menjadi ibu kelak.. lebih banyak baca buku atau info info parenting, ikut kajian parenting, grup grup atau diskusi dan baca postingan senior yang berbagi pengalaman2 dalam membesarkan anak anaknya.. karena pada hakikatnya anak itu suci dan bagaimana langkah anak selanjutnya sangat ditentukan dengan didikan dan hubungan batin yang terjalin antara ibu dan anak semenjak dini..

Begitu banyak hal yang telah ibu berikan bagi kita anak anaknya.. saya terkadang malu sendiri sampai detik ini belum ada perbuatan saya yang setidaknya bisa membuat beban ibu berkurang dan bisa berbangga tersenyum lebar karena lega.. saya tahu saya  tentu tidak dapat membalas jasa jasa luar biasa ibu.. tapi ada doa yang selalu saya panjatkan dan ada harapan bahwa kelak saat saya telah berkeluarga, suami saya adalah seseorang yang cukup bijaksana untuk mengizinkan saya merawat kedua orang tua saya dan suami dimasa tuanya.. saya tau mungkin bukan hal mudah menjalaninya.. tapi saya yakin bahwa sudah seharusnya peran tersebut kita ambil alih kalau dulu ibu yang mengurus kita maka nanti saatnya saya yang mengurus beliau.. hati hati lan nanti kalau ketemu mertua rewel berabe loh? Pasti ada yang ngmg gitu kan? Menurut saya, konsep mertua dan menantu yang digembor2kam itu salah.. karena pada hakikatnya ketika kita memutuskan menikah maka kita adalah anak mereka tanpa memandang kandung atau bukan.. sudah sepatutnya sebagai anak merawat kedua orang tuanya dimasa senja seperti saat ibu dan bapak bersusah suah merawat kita dengan sabar.. saya sangat kagum dengan tante saya yang dengan sabar merawat kedua orang tua dari om saya.. perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh tante saya sama sekali tidak berbeda kepada kedua belah pihak.. memang mungkin tidak mudah menyatukan pemikiran tapi bukan berarti tidak bisa kan?