Menanti hujan

Seperti embun
Semoga tak menjelma menjadi angin
Semoga berubah menjadi hujan
Menyejukkan tanah

Sehingga gempa tak lagi menggetarkan bumi
Porak porandakan rumah yang terbangun kokoh


Satu senyuman saja..

Assalamualaikum wr wb

Seperti janji kemarin yang ulan mau mencoba merutinkan lagi menulis dan berbagi cerita..

Beberapa tahun belakangan ini saya tergabung dalam organisasi volunteer doctor atau yg biasa disingkat VOL-D,  Vol-d ini bergerak dibidang kesehatan tujuan bidikan kita adalah masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Jadi saya ceritain dulu yah awal mula kenapa saya mau memilih menjadi bagian dari vol-d..  dulu kecil saya sering masuk rumah sakit ya kalau nggak dbd, typhus sampai perawat rumah sakit sampai hafal saya karena beberapa kali dirawat. Pengalaman yang tidak mengenakan itu membuat saya lebih aware dengan kesehatan orang disekitar saya karena saya tahu sakit itu tidak enak dan saya tidak mau orang yang saya sayangi sakit.  Hal yang paling menyedihkan buat saya adalah ketika ayah saya sakit dan harus di operasi. Sebelum operasi saya kerap mengantar ayah konsultasi ke beberapa rumah sakit dan saya tahu biaya rumah sakit itu tidak kecil nominalnya.  Saat ayah sakit hati saya jelas tak karuan, tapi saya berusaha tidak menampakkan kesedihan didepan ayah karena saya tahu ayah pasti akan merasa tambah sedih jika tahu saya sakit.  Hari minggu saat membuat sarapan pagi saya ditemani mbak mur masak dan beliau cerita tentang anaknya yang baru saja sembuh dirawat dipuskesmas. Saya kemudian bertanya kepada diri saya
“Sakit itu tidak enak dan sedih rasanya ketika ada orang yang kita sayangi sakit.   Tapi Allah masih memberikan nikmat kepada saya untuk bisa memilih mau dirawat dimana, konsultasi ke dokter mana. Bagaimana dengan jutaan orang indonesia lainnya? mungkin bukan saya seorang saja yang merasa sedih ketika  ayah atau ibunya sakit..  pasti semua anak pun begitu, saya mungkin kerap cemas jika ayah telat minum obat, paling kalau begitu saya tinggal menyodorkan obat dan segelas air untuk diminum ayah karena obatnya tersedia tapi bagaimana dengan orang lain? ”

Pertanyaan dalam benak saya ini membuat hati saya tertusuk, rasa malu dan kesal terhadap diri saya yang tidak bisa melakukan apapun sampai dengan detik itu membuat saya membulatkan tekat ‘nanti jika kuliah aku ingin turun ke masyarakat dan membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada,  saya mau perjuangkan nasib rakyat kecil dengan berorasi di senayan’  itu pikiran saya awalnya,  kemudian pola pikir saya berubah ketika saya berdiskusi dengan ka iwa teman mba fitri,  ka iwa menyampaikan bahwa orasi dan demonstrasi belum tentu bisa mengubah bangsa ini..  beliau menceritakan ke saya tentang bagaimana ia dan teman2 nya mencoba turun langsung ke masyarakat dan membuat suatu produk solutif untuk masyarakat saat itu ka iwa dan teman temannya membuat sebuah pembangkit listrik sederhana untuk menerangi beberapa desa yang belum tercapai listrik dan secara sukarela tentunya.. bulat sudah tekad saya untuk menjadi bagian dari perubahan.. ka iwa pernah bilang gini,kata kata pastinya saya lupa tapi intinya ‘perubahan yang besar sebetulnya dimulai dari diri kita sendiri’ saat itu indonesia mengajar sedang sangat hits dan saya tertarik sekali..

Tingkat satu saya coba beranikan minta izin ke ayah untuk mengikuti indonesia mengajar, namun responnya kurang baik, ayah kurang setuju saya untuk ikut indonesia mengajar yang nantinya harus ke pelosok indonesia apalagi saya seorang perempuan… awalnya saya sangat sedih, sedih sekali. Tapi saya tidak mau nekat pergi kalau tiada izin, saya percaya sekali bahwa ridha Allah tergantung ridha Orang tua.  Saya mensiasatinya dengan aktif dalam kegiatan baksos-baksos dikampus, hingga akhirnya saya merasa saya butuh wadah yang lebih besar dan kontinu dari sekedar baksos baksos.Mulai dari situ saya mencari cari dan bertanya tanya, dan salah seorang senior saya memperkenalkan saya dengan volunteer doctor  langsunglah saya mendaftar vold saat mereka open recruitment.

Oh ya ada beberapa cerita berkesan ketika saya berkesempatan menjadi volunteer.. macerita sedikit yaaah.. saya sempat menjadi volunteer di yayasan tuna wicara, jadi kampus saya mengadakan kegiatan mengajar anak jalanan dan tuna wicara, disana kita belajar dan bermain bersama dengan menggunakan bahasa isyarat. ya bahasa isyarat yang pakai tangan itu loh.. saya sebetulnya tidak bisa berbahasa isyarat dan hanya bermodalkan video youtube belajar satu malam.. saya agak khawatir jika nantinya saya tidak bisa menyampaikan atau terjalin komunikasi dua arah dengan adik adik binaan saya dan ternyata wow.. mereka luar biasa, justru saya malah banyak belajar dari mereka.. jika teman-teman berpikir bahwa anak anak tuna wicara itu adalah anak anak yang cenderung pasif dan minder maka teman teman salah besar, mereka anak anak yang cemerlang, aktif, ceria, percaya diri nya tinggi dan juga punya kreativitas dan daya imajinatif yang tinggi. keterbatasan mereka tidak membatasi langkahnya..

collage_20160614190144165.jpg

Adik adik ini mengajarkan kepada saya dengan senyum riangnya bahwa

“Kebahagian itu sederhana dan apapun aral yang melintang seyogyanya tidak mampu goyahkan diri ini jika kita mensyukuri dan ikhlas menerimanya”

Cerita lainnya yang berkesan adalah saat kami berkesempatan mengunjungi kakek dan nenek di panti  tresna werdha. Dengan persiapan yang singkat dan tanpa bertemu intensif panitia, alhamdulillah acara berjalan dengan baik. Berkomunikasi dengan anak-anak dan kakek kakek nenek-nenek tentu berbeda. Sejujurnya saya belum pernah sebelumnya ke panti jompo. Dikesempatan kali ini saya banyak mendengarkan cerita kakek dan nenek yang baik baik ini, mereka bercerita tentang karir mereka dimasa muda, suaminya dan anak anaknya, mereka juga bercerita bagaimana mereka bisa sampai di panti werdha ini, serta bagaimana teman temannya yang sering berantem rebut-rebutan kayak anak kecil. kakek nenek disini sangat hangat dan welcome sekali saya merasa seperti sedang  berkunjung kerumah nenek saya dan mendengarkan semua cerita nenek saya. saya sungguh terharu mendengar kisah mereka, saya yakin teman teman jika mendengarkannya pun akan menangis. dari sini lah saya belajar bahwa

“Manusia pada hakikatnya sendiri, dan hanya kepada Allah lah tempat bergantung dan hanya Allah lah yang takkan pernah lelah menjaga dan mengasihi kita.

Ayah dan ibu akan semakin senja dan tak berdaya, disaat itu mungkin ibu dan ayah takkan sekuat saat ini, dan ibu dan ayah akan lebih sensitif dan akan merasa sedih saat tak ada perhatian anaknya disisinya namun terkadang mereka akan memilih diam seribu bahasa karena takut memberatkan anak-anaknya dan sudah selayaknya kelak saya lah yang membuat senyuman dibibirnya meski tanpa diminta seperti yang saat ini ibu dan ayah senantiasa berikan kepada saya yang membuat saya senantiasa tersenyum ”

11822509_10207768939247604_811550842212849671_n

Masih banyak cerita cerita lainnya, yang pastinya membuat kehidupan saya berwarna, seperti saat terjun langsung ke masyarakat di rusun cakung saya menemukan masih banyaknya balita balita yang bergizi kurang yang tentunya sangat menyedihkan keadaannya, ataupun realita yang mungkin kita tak pernah sadari bahwa dibalik gedung gedung tinggi bertingkat terdapat suatu keadaan yang 180 derajat berbeda yang dimana kesehatan sanitasi masyarakat masih sangat rendah sekali. Betul kata ka iwa, merubah indonesia tak perlu dengan hal yang besar tapi mulai melakukannya dari diri sendiri dengan sebuah niat yang tulus.

“Kebahagiaan sejati itu bukan perkara menjadi sempurna, namun ketika kita bisa berbagi dengan sesama dengan hati yang tulus dan ikhlas serta dipenuhi rasa syukur serta senantiasa diniatkan untuk memperoleh ridhaNya disetiap langkah kita ialah suaru kebahagiaan hakiki”